Sabtu, 12 Mei 2012

surat bersampul merah jambu

Dalam beberapa detik saja sosoknya telah menghilang dari pandangan. Mula-mula ia beranjak mundur. Lalu dengan samar saja hingga tak tampak sedikitpun lagi.

Adista masih ditemani uraian air matanya. Matanya sembab. Entah sudah berapa lama tangisnya tak jua berhenti. Hatinya terasa begitu pedih atas kenyataan ini. Adista menatap nanar pada jalanan malam yang masih didera hujan lebat itu.

Hati adista semakin tersa pedih, perih sekali. Rasanya segala kesedihan tengah bersanding dengannya saat ini. Tak akan pernah lagi dijumpainya sosok yang begitu disayanginya itu.

Adista telah merasakan begitu sedihnya kehilangan, terlebih lagi dia tidak akan bertemu dengan sosok itu lagi. Ini telah melemaskan seluruh otot di persendiannya. Hingga terciptalah Adista yang terkulai duduk sambil terus menangis menyesali semuanya.
Air mata Adista pun telah menyatu dengan derasnya rintik hujan. Tak dipedulikannya selimut malam yang begitu dingin dan gelap yang tengah memeluknya. Diacuhkannya saja tubuhnya yang telah menggigil dengan begitu hebatnya. Sesal yang terlambat yang dimilikinya kini takkan bisa mengembalikannya semua yang telah terjadi. Masih terngiang semua yang telah terjadi di heri terakhir sosok itu.

*****

“Dis, hari ini jangan sampai lupa lagi, ya! Surat itu harus nyampe ke tangan Davi biar di bisa baca sendiri,” pesan Rieka dengan semangatnya.

Adista tersenyum hambar.

Rieka adalah teman sekelas Adista. Mereka bukan teman akrab. Hanya saja akhir-akhir ini Rieka jadi suka deketin Adista, sekedar nanyain tentang Davi. Dan kemaren akhirnya Rieka ngaku juga kalo dia naksir Davi. Rieka cantik. Dia seorang model yang sering mengikuti dan memenangkan berbagai lomba di bidang modelling.

Dan Davi__ dia seseorang yang sudah dua bulan ini jadi temen dekatnya Adista. Memang tak begitu dekat. Hanyan teman ngobrol di waktu luang. Tadinya Davi tak begitu dikenal di sekolahnya ini. Tapi sekarang Davi sudah cukup pouler. Tepatnya setelah Davi bergabung dengan klub volly di SMA ini. Bahkan ada banyak gadis yang nembak Davi secara terang-terangan. Dan entah berapa banyak yang naksir Davi dalam diam, lewat tatapannya yang terus mengikuti sosok seorang Davi. Davi seorang cowok yang cute dan yang terpenting dia easy going dan friendly banget.

Sedangkan Adista bukan siapa-siapa. Adista hanya seorang gadis biasa yang mencoba menyayangi sseorang dengan tulus. Davi, dialah orang itu. Cowok yang disukainya secara diam-diam sejak kelas 1 hingga kelas 2 ini. Hanya dua sobat, Tika dan Nia yang mengetahui kisah kasih terpendamnya ini. Dan atas usaha mereka berdua jualah Adista dan Davi bisa menjadi teman ngobrol yang cukup dekat.

Bagi Adista, Davi adalah cowok yang manis dan menyenangkan, stylenya keren, sporty. Sedangkan Adista__ dia tidak secantik gadis-gadis yang sudah ditolak Davi. Apalagi jika dibandingkan dengan Rieka, Adista jadi tambah minder.

Sebenarnya sudah dari kemaren Adista dapat titipan berupa sebuah surat bersampul merah jambu dari Rieka dan ditujukan untuk Davi. Hati Adista semakin merintih. Keinginannya untuk hanya memendam perasaannya pun semakin kuat saja.

“Bukannya lupa, tapi kemaren gue emang gak ketemau sama orangnya.”

Rieka manggut-manggut percaya.

“Dis, cepetan!” Teriak Nia dari depan pintu kelas.

Rieka pasti tak menduga bahwa Adista juga mempunyai rasa pada Davi, meskipun hanya dipendamnya.

Jam pulang sekolah telah berlalu sepuluh menit. Dan selama itu jua telah dilakoninya dengan mendengarkan ocehan Rieka mengenai Davi. Dan dua sobatnya itu menunggu dengan setia di luar kelas. Mereka tak mungkin sabar mendengar kan Rieka yang terkenal dengan kebanggaannya akan dirinya yang sebagai seorang model itu.

"Ya udah, Rie, gue pulang duluan, ya. Soal ini pasti gue usahain koq.” Adista mengibas-ngibaskan surat untuk Davi itu.

“Pokoknya harus dibaca Davi hari ini, ya Dis. Gue udah gak sabar mau tau reaksi Davi saat dia tau kalo gue suka dia.”

Adista menganggukkan kepalanya, lalu beranjak menghampirikedua sobatnya itu.

Ketiganya pun melangkah meninggalkan kelas XI IPA 2. Langkah mereka pun menggema di koridor sekolah yang sudah sunyi itu. Dinding-dinding pun hanya diam membisu.

Namun, kesunyian ini tak sama dengan perasaan Adista. Saat ini perasaannya telah dihuni oleh suatu keramaian, yaitu kegelisahan yang teramat besar.

“Dis, gue duluan!” Rieka meleset berlari di samping mereka.


"Sialan tuch cewek!” maki Nia tanpa didengar oleh Rieka.

Tika yang menyadari perasaan Adista saat ini langsung menyenggol lengan Nia sebagai isyarat agar Nia juga memperhatikan Adista yang sedari tadi jalannya menunduk saja.
Nia pun menurut.

Ketiga sobat ini pun terus melangkah menuju gerbang sekolah.

“Dis!" Panggil Tika. “Adista!”

“Hah?” Adista pun tersadar dari lamunannya. ‘Ada apa ?”

"Mending surat itu gak usah loe kasih ke Davi deh, daripada loe tertekan kayak gini,” usul Nia.

Tika sependapat dengan Nia. Tentunya mereka gak mau melihat sobatnya yang satu ini terus bermuram durjana.

“Gue bakalan lebih tertekan lagi kalo gak nepatin janji gue untuk nyampein surat ini ke Davi,” ucap Adista pasrah.

Tika dan Nia saling pandang dengan prihatin.

“Janji ? janji apan sih ?"

Ketiga gadis ini langsung menoleh kaget ke arah suara yang tiba-tiba muncul di antara mereka itu. Rasanya suara itu tak asing di telinga mereka.

"Ngagetin orang melulu loe ! gimana kalo kami jantungan? Hah?” Nia memukul-mukul lengan Davi.

Sedangkan Davi mencoba menghindar sebisa mungkin sambil cengar-cengir. Nich anak emang suka banget usil sama Nia.

Tika dan Adista tertawa mrlihat tingkah laku kedua orang yang lagi kejar-kejaran kayak anjing dan kucing itu. Nia anjingnya dan Davi kucingnya. Karena Davi lah yang sedang dikejar oleh Nia.

Saat melihat Davi, sejenak Adista melupakan keresahan yang tengah menerpanya, yaitu antara menyampaikan surat itu atau tidak.

"Hai, Dis!” sapa Davi saat sudah berhenti main anjing kucing dengan Nia.

“Hai!” Balas Adista sambil tersenyum. Pipi Adista pun bersemu merah.

Tanpa sepengetahuan Davi dan Adista, Nia ngasih isyarat pada Tika melalui matanya. Tika pun langsung mengerti arti tatapan itu.

“Dis, kami pulang duluan, ya. Harus buru-buru nich,” pamit Tika.

“Lho? Kan kita emang mau pulang,” tukas Adista. Adista mengerti maksud kedua sobatnya itu. Mereka pasti mau ninggalin dia berduan sama Davi.

“Ya udah, pergi sono! Adista biar gue yang nganterin pulang. Gue gak mungkin tega ngelihat Adista pulang sendirian,” kata Davi sambil melirik Adista sekilas dan tersenyum.

Adista semakin tersipu. Wajahnya pun sudah semerah buah tomat. Ternyata Davi juga mengerti maksud Nia dan Tika.

“Narsis loe! Awas loe kalo sampe terjadi apa-apa sama sobat gue!” Tunjuk Nia pada Davi.

“Daagh, Dis!”

Nia dan Tika pun mempercepat langkah mereka mendahului Adista dan Davi.

Sepeninggal kedua cewek itu, Adista dan Davi jadi sama-sama salah tingkah. Sepasang anak manusia ini pun hanya terus melangkah tanpa berbincang. Bingung plus malu. Enaknya ngomongin apaan, ya?

Setibanya di depan gerbang sekolah barulah Davi membuka mulut. “Tunggu di sini bentar ya, Dis. Gue ngambil motor dulu.”
Davi sudah ngambil sikap kuda-kuda untuk berlari, tapi langsung tertahan.

“Davi….” Adista menggantung kalimatnya. Rasanya tiba-tiba lidahnya tersa kelu.
Sebenarnya Adista masih bingung mengenai surat itu.

“Ya?”

“Rumah gue kan deket. Jalan kaki bentar juga udah nyampe.”

“Ya udah gue temenin jalan kaki dech.”

Adista mengangguk sambil tersenyum.

Keduanya pun terus melangkah menuju rumah Adista. Masih dalam diam. Mereka melangkah dengan isi benaknya masing-masing. Meletakkan kembali potongan-potongan memori di tempatnya yang benar.

Adista masih bimbang. Tapi Adista tahu, bagaimanpun juga di tetap harus mengambil tindakan itu. Antara janji yang merupakan sebuah amanat perasaan yang dengan setianya selalu menemaninya. Adista harus memilih amanat itu. Toh akhirnya yang mengambil keputusan juga bukan dirinya. Davi lah yang akan memutuskan untuk nerima Rieka atau tidak. Meski akhirnya Davi memilih Adista, mungkin itu yang terbaik.

Adista menghentikan langkahnya. Dan merogoh sesuatu di dalam tasnya. Mengambil surat bersampul merah jambu itu. Tanpa membaca isinya pun Adista sudah dapat menebak isinya. Tentunya tentang perasaan Rieka yang mau jadi ceweknya Davi.

Dengan heran, Davi pun ikut menghentikan langkahnya. Davi memperhatikan Adista yang sedang mengaduk-aduk isi tasnya itu dengan alis terpaut.

“Dis, loe ngapain?”

“Ada yang gue cari nich,” jawab Adista tanpa menoleh Davi.

“Mau gue bantuin?”

“Gak__gak usah. Nich udah ketemu,” Adista memamerkan surat bersampul merah jambu itu pada Davi.

Sejenak Davi terhenyak. Namun, dia segera tersenyum. Davi tak menyangka Adista akan seberani ini. Davi berpikir, ngapain Adista mamerin surat itu padanya kalo maksudnya bukan ‘itu’. Adista pasti pengen ngutarain perasaannya pada dirinya lewat surat itu. Sebenarnya Davi sudah menduga kalo Adista juga menyukainya. Tapi, kali ini rasanya Davi bener-bener dapat surprise.

“Apaan tuch?”

“Surat cinta.”

Davi tercenung, dugaannya benar. ”Untuk siapa?”

“Buat loe.” Adista menyodorkan surat itu ke depan Davi.

“Gue?” Davi menunjuk dirinya sendiri denga tergagap.

Adista mengaggukkan kepalanya dan berusaha setenang mungkin dengan tersenyum sebisanya.

Davi menerima surat itu, lalu mencoba untuk membukanya. “Gue baca di sini gak pa-pa kan?”

“Ya.” rasanya koq sakit, ya? “Tapi sorry gue baru bisa ngasihnya sekarang, sebenarnya dia udah ngasihnya dari kemaren, tapi kemaren kita gak ada ketemu kan?”
Seketika gerakan tangan Davi terhenti. Dia? Dia siapa? Bukannya surat ini dari Adista sendiri? Davi membatin.

“Koq berhenti, sih? Baca donk. Gue kan juga pengen tau apa isinya.”

Davi membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya.

Betapa terkejutnya Davi, saat membaca nama di akhir kata-kata pernyataan cinta.
“Rieka?” Kenapa bukan Adista? Davi sangat kecewa.

“Aaaaaaa….” Tiba-tiba Davi berteriak. “Surat ini dari Rieka?” Davi mengibaskan surat itu di udara di depan Adista.

Davi…. Sejenak Adista terhenyak melihat tingkah Davi. Adista pun jadi sedikit takut, belum pernah dia melihat Davi yang seberang itu.

Belum lagi hilang keterkejutan Adista, Davi sudah melempar surat itu ke tengah jalan. Lalu memegang kedua pundak Adista. Mereka saling bertatapan. Ada sorot kemarahan di mata Davi.

“Adista, kenapa kamu setega ini sama aku?” Kata Davi ber-aku-kamu pada Adista. Rupanya Davi benar-benar kecewa dan marah.

Adista tidak tahu harus bagaimana. Kenapa Davi bisa semarah ini? Apa ada yang salh lalu di mana letak salahnya.

“Dista, loe tau, gue Cuma sa….”

“Davi!” Adista mengangkat kepalanya. “Apa yang terjadi denganmu? Apa kepopuleran yang kamu dapat sekarang ini bikin kamu gak bisa menghargai perasaan cewek? Rasa kasih sayang itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, Davi. Bahkan dirinya yang sedang mengalaminya pun tidak bisa memutuskan siapa yang akan disayanginya.”

"Tapi, Dis, aku….”

Belum selesai davi mengutarakan maksudnya, Adista sudah melepaskan diri darinya. Adista berlari ke tengah jalan, menghampiri surat itu dan memungutnya.

“Davi! Gue gak nyangka bisa-bisanya loe membuang surat yang berisi perasaan cewek ke loe ini. “

"Dista, kamu boleh ngatain aku apa aja setelah kamu dengerin penjelasanku ini. Tadinya aku pikir surat itu dari kamu. Dan kamu lihat sendiri kan, betapa bahagianya aku saat nerima dan membuka surat itu. Tapi setelah aku tau surat itu bukan darimu, aku kecewa, Dis. Aku kecewa. Apa ini artinya kamu gak ngangap aku istimewa seperti istimewanya kamu di mataku dan dihatiku?"

Adista memutar kembali memorinya. Ya, wajah Davi memang tampak sangat bahagia saat nerima surat itu. Dan Davi menganggapnya istimewa….

“Dis, sekarang kamu udah tau maksudku kan? Meskipun kamu udah tau, tapi aku akn tetap bilang. Dista, aku….”

Dan belum lagi Davi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba mendekatlah sebuah mobil jip dengan kecepatan tinggi ke arah Adista.

Sementara itu Adista telah begitu terpana dengan semua ucapan Davi, dia tersenyum tak percaya dan bahagia. Tanpa menyadari di mana tempatnya berdiri sekarang. Dan tanpa mendengar deru mobil ynag sedang melaju ke arahnya itu.

“Dista awas!” Davi berlari ke arah Adista.

Denga heran Adsita melihat tingkah Davi. Lalu saat menyadari keadaan dirinya dan mobil yang sedang melaju itu, Adista begitu ketakutan hingga kakinya pun tak mampu bergerak. Tak lagi dapat dilihatnya mobil itu dengan seutuhnya.

“Brukk!”


Gelap.

Lalu entah setelah berapa lama….

Aw.adista merasakan kepalanya begitu berat. Dengan amat perlahan, Adista berusaha membuka matanya. Pertama-tam yang dapat dilihatnya hanyalah sebuah kabut besar. Tak lama kemudian, Adista sudah kembali bisa melihat semuanya. Dan dirasakannya kepalanya masih sangat pusing.

Kemudian Adista melihat Davi yang telah terkapar payang di tengah jalan, tepat di tempatnya berdiri sebelumnya dan hanya dua meter dari tempatnya tergeletak sekarang.

Dengan kepala yang dirasakannya masih begitu berat, dipaksakan Adista untuk berdiri. Dengan terhuyung-huyung Adista berusaha melangkah menghampiri Davi. Lalu, dipercepatnya langkahnya.

"Davi!” Panggil Adista saat sudah berada di samping Davi.

"Davi!" Adista pun langsung mendekap davi di pangkuannya dan menggemggam erat tangan tangan Davi seoalh tak akan pernah dilepaskannya tangan itu.

Davi adista hampir tak sanggup melihat keadaan Davi sekarang. Cairan merah pekat hampir membasahi seluruh tubuh Davi. Dan Davi ynag telah terkapar payah, hanya merintih menahan rasa sakitnya.

Dengan mata yang setengah terbuka, Davi menatap tulus pada Adista dan masih menghadirkan senyum terindah yang dimilikinya. Dadanya pun naik turun dengan lebih cepat.

“Davi, kamu gak pa-pa. bertahanlah! Kamu pasti bisa!” Ucap Adista. Adista takut kehilangan Davi. “Tolong! Tolong! Tolong!” Teriaknya.

Davi tersenyum. “Dista, tersenyumlah untukku sebagai pertanda kita sehati,” ucapnya dengan terbata-bata.

Adista tersenyum dalam derai matanya yang berkaca-kaca.

Kemudian Davi berusaha menggerakkan tangannay untuk menyentuh wajah Adista.
“Tersenyumlah….”

Lalu, Davi menutup matanya dengan perlahan. Dan di pun terkulai lemah.

"Davi!” Panggil Adista pelan.

"Davi!” Adista mengulangnya dengan lebih pelan.

“Davi!” Adista mulai cemas. Dan dia pun mulai menangis.

“Davi!” Adista mengguncang tubuh Davi.

Saat disadarinya Davi telah tiada, Adista berhenti mengguncang tubuh Davi. Dan berhenti menangis. Lalu Adista tersenyum. Sebuah senyum yang ia usahakan semanis mungkin. Senyum yang akna selalu disukai Davi. Dan senyum yang akan selalu membuat Davi merindukan dirinya.

“Davi, aku sudah tersenyum. Davi, lihatlah. Senyum ini hanya untukmu.”

Tanpa disadari oleh Adista, orang-orang telah berdatangan sedari tadi, tepat saat Davi menghembuskan nafas terakhirnya. Karena itu mereka hanya diam menuggu Adista selesai biara.

“Davi….”

*****

Adista tak menangisi kepergian davi yang begitu cepat. Bagaimanapun juaga kematian adalah sebuah janji bagi setiap makhluk bernyawa. Adista hanya menangisi kelengahanny selama ini. Kelengahannya yang taka dapat menyadari perasaan Davi yang sama dengan perasaannya. Dan kelengahannya yang telah memarahi davi di saaat detik-detik terakhirnya.

“Davi, ma’afkan aku. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar