Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teenlit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

MENGEJAR VIDYA

Fuih! Risadi menarik nafas lega.

Cowok berkulit putih ini melangkah memasuki kelas barunya. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Rasanya ia tak pernah melihat wajah-wajah itu. Yang sebenarnya hanya tak pernah diperhatikannya saja.

Kelas XII IPA 1, tempat berkumpulnya siswa-siswa terpilih.serius sekarang itu juga kelas Risadi? Tadinya , untuk menengok kelas itu saja tak pernah terpikir olehnya. Apalagi menjadi salah satu penghuninya.

Risadi tentunya bukan siswa terpilih secara legal, yang termasuk berhak duduk di kelas itu. Dia jauh lebih baik dalam pergaulan daripada dalam pelajaran. Lagi pula setiap adalatihan, Pr, ataupun ulangan, selalu ada teman yang mau berbagi dengannya. Dengan ketentuan yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak tentunya. Ya, bukan masalah.yang penting, Risadi tetap bias naik kelas dengan nilai hasil dari semua itu.

Namun, sejak hari itu, semuanya berubah. Sejak hari dimana diadakannya pembagian raport, sejka pertama kali Risadi melihat cewek itu, cewewk manis dengan penampilannya yang sederhana.. sebuah pertemuan yang tak disengaja. Waktu itu, Risadi sedang menghindar dari kejaran Si cewek centil, Cantika, dan ia pun tersesat di perpustakaan. Di ruangan yang dipenuhi buku itulah, Risadi menemukan sosok cantik itu. Dan Risadi langsung terpesona olehny. Kemudian, Risadi langsung meminta pada papanya yang salah satu donator terbesar di sekolahnya untuk menempatkannya di kelas yang sama dengan cewek itu.

Risadi menghampiri cewek yang sedang membaca buku itu.

”Hai!” sapanya.

Sejenak, gadis itu menatap Risadi, lalu kembali menekuni bukunya.

“Vidya renggani. Nama yang cantik,” puji Risadi, tetap m,encoba mengalihkan perhatian gadis itu padanya.

Cukup lama tak melihat perubahan respon dari gadis itu, Risadi pun duduk di sampingnya.

Masih dalam dunianya, gadis itu tak bergeming.

Dan tentunya, kamu sudah kenal denganku. “Iya kan?”

Tetap saja Risadi tak dipedulikan oleh gadis itu.

Tak lama kemudian, gadis itu berdiri dan melangkah ke luar kelas.

Di depan pintu, Vidya berpapasan dengan A’am, ketua OSIS. Dan keduanya pun saling menyapa dengan senyuman.

“Manis sekali,“ gumam Risadi.

Risadi melihatnya. Senyum gadis itu. Dia tampak semakin manis dibalut dengan senyum itu. Dan sepertinya, ketua OSIS itu sduah cukup emngenalnya. Mungkin Risadi bias tau lebih banyak tentang gadis yang bernama Vidya itu dari A’am. Itu berarti ia harus berteman dengan pria pintar itu.


Pagi-pagi sekali mading sekolah sudah dipenuhi oleh siswa-siswa kelas tiga SMU favorit itu. Semuanya ingin melihat pengumuman kelulusan. Berbagai macam suara pun menggema diantara mereka. Ada suara sorak
kegirangan. Ada tangis haru bahagia. Ada juga yang syok, gak bisa bicara lagi, hanya bisa terduduk lemas.

Dari ujung lorong sana, tampak sesorang berlari. Larinya cukup cepat. Dengan nafas yang masih tidak beraturan, dia memasuki gerombolan anak di depan madding. Pertama-tama yang dilihatnya adalah nama yang terletak di peringkat pertama, Vidya renggani. Sudah diduganya. Kemudian, dia melihat namanya, Risadi. 19. Namanya terletak di nomor urut 19, itu artinya dia peringkat ke-19 dari seluruh siswa kelas tiga. Nilai yang jauh dari bayangannya selama ini. Ia pun bersorak girang. Akhirnya, Risadi bias juga membuktikan kalau dia juga bisa berprestasi dalam pelajaran.

“Vidya harus mengetahui ini.” tekad Risadi.

Dengan pasti, Risadi melangkah menuju kelasnya. Dia berniat mencari Vidya. Namun, setibanya di kelas, tak dapat matanya menemukan sosok Vidya. Kemudian, Risadi berusaha mencari Vidya di perpustakaan, tempat favorit Vidya.tapi, tetap saja tak ditemuinya. Risadi pun mulai cemas, namun dia tetap mencari. Ia mencari ke setiap tempat di sekolah. Bahkan tak ada satupun dari tempat itu, dapat ditemuinya Vidya.

“Di mana Vidya?” Risadi melangkah gontai.

Risadi harus menemui Vidya. Ia harus memberitahukan tentang nilainya. Selain itu, ada satu hal penting lagi yang harus diketahui Vidya darinya. Ya, bahkan ia belum pernah mengatakan kalau Vidya lah gadis yang dicintainya. Risadi harus mengatakan ini. Tak boleh terlambat. Tapi, di mana Vidya?

“Hai, Risadi!” sapa sebuah suara genit.

Seperti biasa, Risadi tak mempedulikan suara itu.

Mellisa adalah gadis yang sudah lama menyukai Risadi. Lebih tepatnya salah satu fans Risadi. Resiko pria ganteng. Risadi kan pangeran sekolah, gaul, atlet tennis meja yang sering memenangkan kejuaraan yang diikutinya., aktif di OSIS sebagai ketua seksi olahraga, dan kaya.

Dengan genitnya, Mellisa tak pernah putus asa. Tetap diiringinya langkah Risadi. “Kamu kenapa? Ada masalah?”

“Ma’af, tolong tinggalkan aku.”

Mellisa mengerutkan keningnya. Rasanya sudah setahun ini, Risadi sudah jauh berubah, sikapnya jauh lebih sopan daripada sebelumnya, meskipun ia tetap saja tak mempedulikan kehadiran Mellisa. Tak apa, mungkin ini memang belum waktunya. Mellisa akan terus berusaha. Tapi, apa yang sudah membuat Risadi berubah sedrastis ini?

“Risadi, mungkin aku bisa membantumu,” Mellisa tetap berusaha.

Risadi terus melangkah menuju ke arah luar sekolah.

“Risadi?”

Risadi menarik nafas panjang dan berhenti melangkah. Ditatapnya Mellisa dengan kesal, “Aku mencari Vidya.”

“Apa?” untuk apa Risadi mencari Vidya? Jadi benar gossip tentang Risadi yang berusaha mendapatkan hati Vidya. Hah? Ini tidak mungkin. Mellisa jauh lebih cantik, fashionable, dan gaul daripada Vidya. Kenapa Risadi memilih Vidya?

“Mel? Kamu melihatnya?”

“Kenapa harus Vidya?”

Risadi mengerutkan keningnya. Mellisa tidak berhak menanyakan ini apalagi marah pada Risadi hanya karena ini. Mellisa bukan siapa-siapa Risadi. Risadi tak punya waktu, ia harus segera menemukan Vidya dan menyatakan perasaannya. Risadi pun kembali melangkah. Kali ini langkahnya lebih cepat.

Sementara itu, Mellisa memandangi kepergian Risadi dengan sedih. Jadi gossip itu benar?

*****
Tiba di depan gerbang sekolah, mata Risadi menangkap sosok Vidya. Gadis itu sedang duduk di halte bis. Dengan penuh semangat, Risadi merasa sangat beruntung bias menemukan Vidya. Risadi pun segera berlari kea rah halte bis.

Namun, belum sempat Risadi tiba, sebuah bis berhenti di halte bis itu dan Vidya pun menghilang dari pandangannya masuk ke dalam bis. Risadi berteriak memanggil Vidya, tapi suara bising kendaraan bermotor telah menelan suaranya. Vidya pun tak menyadari kehadirannya.

Risadi menghentikan langkahnya dengan nafas terengah-engah.

Sejenak Risadi mengenang sikapnya selama ini, sebelum ia mengenal Vidya. Dia memang seorang playboy, tapi itu sebelum ini. Sebelum perasaa yang tulus pada Vidya ini dirasakannya. Tak pernah dia menemukan gads seperti Vidya, gadis yang hanya mempedulikan pelajarannya dan sangat peduli dengan teman-temannya. Gadis sederhana yang sangat manis. Terlebih lagi, ia satu-satunya gadis yang telah manghadirkan cinta tulus yang dirasakan Risadi sekarang. Dan Risadi yakin, Vidya akan menerimanya. Karena dia telah berubah sesuai dengan petuah-petuah A’am yang telah menjadi temanya. Risadi bukan lagi pria playboy yang sombong dan hanya mempedulikan pergaulan. Bahkan sekarang Risadi juga sudah bias masuk 20 besar, nilai yang sangat jauh lebih baik dari nilai-nilainya sebelumnya. Ini pun ia dapatkan dari bantuan A’am yang rela berbagi ilmu padanya. Awalnya ia melakukan ini semua memang karena Vidya, tapi belakangan ia sadar bahwa inilah yang memang harus dilakukannya jika ia mau sukses di kemudian hari. Tetap saja Vidya yang telah menyadarkannya tentang semua ini.

“Di, sedang apa di sini?” seseorang mengejutkan Risadi.

Risadi menoleh ke arah suara itu.

Gilang, teman breakdance Risadi. Pria ini sedang duduk di atas sepeda motor ninjanya yang masih menyala.

Risadi tak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Boleh kupinjam motormu?”

“Mau ke mana?”

“Mengejar seseorang. Dan ini masalah hidup dan matiku.”


“Benar begitu? Tentu saja,” Gilang turun dari motornya.

Dan seketika Risadi sudah melaju dengan motor Gilang. Dikejarnya bis yang sedang ditumpangi Vidya. Dan pada saat yang tepat, Risadi menghalangi bi situ dengan menghentikan motor yang dikendarainya tepat di depan bis itu.

Supir bis itu langsung ngerem. Seluruh penumpang pun dibuat kaget karenanya. Untung tidak ada yang terluka.

Melihat bis sudah berhenti, Risadi langsung turun dari motornya dan melangkah memasuki bis itu. Matanya mencari sosok Vidya, meskipun langkahnya diiringi tatapan tak suka dari para penumpang. Dan langsung menghampiri sosok itu.

“Vidya!” Risadi menyapa Vidya.

“Kamu? Sedang apa di sini?” tanya Vidya gugup.

Sebenarnya sudah selama setahun ini Vidya merasa tidak nyaman dengan Risadi. Bukan karena dia tidak suka dengan pria itu. Tapi, ada hal lain yang membuatnya merasa bersalah. Vidya tahu Risadi menyukainya. Dan sekarang tak ada hal yang bias menjadi alasannya untuk tidak menyukai Risadi. Pria itu juga sangat manis, sebenarnya dia juga pintar. Tapi, ini hanya jika Vidya masih tidak sendiri. Bagaimana Vidya bisa menjelaskannya?

Mata Risadi tak lepas menatap wajah Vidya. “Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Silahkan.”

“Tak bisa di sini.”

“Baiklah.” Bagaimanapun juga Vidya tetap harus mengatakannya meskipun akan sangat menyakitkan.

Sebelum turun dari bis, Risadi mengucapkan terimakasih pada para penumpang dan supir bis itu karena telah mengijinkannya menemui Vidya. Mereka pun bisa mengerti. Kemudian Risadi turun diiringi oleh Vidya.

Risadi menggiring motornya menepi. Dan Vidya mengikutinya dari belakang sambil terus menyusun kalimat-kalimatnya. Mereka tiba di sebuah bangku panjang di bawah pohon di tepi trotoar. Setelah meletakkan motornya dengann benar, Risadi menatap Vidya. Sedangkan Vidya hanya menundukkan kepalanya.

“Vidya, aku lulus dan namaku berada di peringkat ke-19.” seru Risadi girang.

“Selamat, ya!” ucap Vidya tulus sambil menatap Risadi.

Risadi tersenyum dan sekali lagi dia mengagumi tutur Vidya yang lembut dan sikapnya yang sangat manis. Dan vidya gadis yang cantik.

Hening. Kebisuan menengahi kedua insan ini.

Perlahan Risadi menggapai kedua tangan Vidya. “Aku mencintaimu,” ucapnya tanpa ragu.

Sejenak Vidya terhenyak. Aku mengetahuinya, Risadi. Aku tahu tentang ini sejak pertama kali kamu mengajakku bicara. Batin Vidya.
Risadi menunggu jawaban Vidya.
Lama….
Tetap tak ada jawaban dari Vidya. Ia hanya menundukkan kepalanya.

“Vidya, kamu tidak apa-apa?”

Lalu Vidya mencoba memberanikan diri menatap wajah Risadi. Ia mencoba tersenyum pada pria itu. Vidya tau senyum saja tak dapat membantu untuk membuat Risadi tidak apa-apa setelah mendengar penjelasannya kali ini.

Risadi membalas senyum itu. Ia menunggu harap-harap cemas.

“Aku bukan orang seperti yang kamu bayangkan” Vidya membuka mulut.

“Hah?”Risadi menatap kaget. Apa maksudnya?

Dia. Di hatiku sudah ada dia.”

Seperti dikoyak rasanya dada Risadi mendengar perkataan Vidya ini. Vidya, gadis yang diharapkannya, ditunggunya, selama ini, dan yang membuatnya berubah, ternyata menyimpan hatinya untuk orang lain. namun, Risadi tak mau menyerah. Lagi pula, bukannya belum ada surat undangan pertunangan apalagi perkawinan? Jadi, Vidya masih bebas.

“Begitu?”

Vidya mengangguk ragu. Semudah inikah Risadi dapat menerimanya? Risadi pria yang baik. Vidya tidak mau membuatnya sakit hati. Tapi, dalam hal ini, mana bisa Risadi tidak sakit hati. Dan Vidya tidak bisa meninggalkan kekasih hatinya.

“Ma’af,” hanya ini yang bisa diucapkan Vidya. Ia berharap kata ini dapat mengurangi sedikit rasa sakit hatinya.

“Tak apa. Kita bisa mencobanya dari awal. Kau bisa mencintaiku bahkan setelah kita menikah nanti. Untuk saat ini aku bisa menerimanya jika diantara kita masih ada perasaanmu untuk orang itu”

“Apa?” Vidya tersentak kaget. Mana bisa begitu.

“Vidya, sedang apa di sini?” seru sebuah suara pria.

Seketika Vidya dan Risadi menoleh ke arah suara itu.

“Aku….?”

“A’am?” kenapa A’am berbicara seolah dia berhak terhadap Vidya?

“Risadi? Kalian sedang apa disini?” A’am tersenyum pada Risadi lalu memberi isyarat pada Vidya dengan tatapannya, ada apa ini?

“Kebetulan sekali,” ujar Risadi. “Kamu bisa jadi saksi diantara aku dan Vidya. Kamua tau? Aku sudah menyatakan perasanku padanya.”

“Apa?” rona wajah A’am pun segera berubah sambil tak lepas tatapannya dari wajah Vidya.

Risadi mengangguk antusias.

Sedangkan Vidya hanya menatap takut-takut ke arah A’am.

Seketika Risadi merasa aneh dengan suasana ini. “Kalian…? Heh? A’am, kenapa wajahmu seperti orang yang sedang cemburu? Dan Vidya…? Ada apa ini?”

Dengan segera A’am menarik tangan Vidya. Vidya pun tertarik berdiri di sampingnya.

Risadi tersentak kaget. Dan ia pun ikut berdiri. Ia tak suka melihat A’am bersikap seperti ini pada vidya. Mana boleh tangan Vidya dipegang pria selain dirinya. Apalagi mereka tampak sangat dekat daripada biasanya.

“Aku dan Vidya….”

Vidya menggenggam tangan A’am, lalu menatapnya dengan penuh harap. Ia berharap A’am mengerti isyaratnya ini. “Aku yang akan menjelaskannya,”serunya mencoba menenangkan A’am.

“Kalian…?”

Rasanya tak sanggup lagi Risadi berucap. Ia berharap yang akan dihadapinya ini tak seperti yang baru saja
dipikirkanya. Vidya dan A’am? A’am bukan pria yang mudah dekat dengan seorang gadis. Bahkan sikapnya selama ini seolah menyatakan belum ingin bersama seorang gadis. Tidak hanya satu dua gadis yang mendekatinya, lalu semuanya hanya dianggapnya sebagai teman. Tak heran banyak gadis yang ingin jadi kekasihnya, karena selain tampan, dia juga ketua OSIS, ramah, dan tentunya jauh lebih pintar dari dirinya. Ya, A’am menduduki gelar peringkat kedua terbaik di SMA ini. Dan sikap A’am selama ini juga sangat bersahabat dengannya. A’am lah yang bersedia menjadi pendengar terbaiknya mengenai cerita dan harapannyanya tentang Vidya. A’am juga yang selama ini menjadi penyemangatnya untuk tetap berusaha demi Vidya, salah satunya dengan belajar untuk setidaknya masuk dua puluh besar. Lalu, sekarang apa yang akan dijelaskan oleh kedua orang yang berada di depannya ini?

Ini waktunya, Di. Waktunya kamu tau. pelan-pelan Vidya menyusun kata demi kata yang akan diutarakannya pada Risadi. “Sebelum ini aku tidak mungkin mengatakan ini padamu. Karena kamu tak boleh jatuh bahkan setelah kamu mengetahui semua ini___ Kita tidak bisa bersama.”

“Ha?” hanya ini yang bisa didengar dari mulut Risadi saat ini apalagi setelah ia melihat genggaman tangan A’am dan Vidya. Kemudian, Risadi menundukkan kepalanya, berusaha menahan sesuatu yang mau mengalir dari sudut matanya. Dan matanya pun tampak berkaca-kaca.

“Risadi, kau tak boleh….”

Tak boleh apa?” teriak Risadi memotong kalimat Vidya. “Tak boleh ikut merasakan kebahagiaan yang sekarang kalian rasakan? ____ Sejak kapan? Sejak kapan kalian menyembunyikan ini dariku?”

Vidya masih ragu, tapi ia tetap harus menjelaskannya. Tak boleh menyakiti Risadi lebih dari ini. Tak boleh menyembunyikan apa-apa lagi dari Risadi.

“Sejak pertama kalinya kami sekelas di sekolah tingkat pertama.” Dengan berat, Vidya melanjutkannya, “Dan dua hari lagi, aku dan A’am akan bertunangan.”

Lagi-lagi Risadi dibuat kaget karenanya. Semua ini memang sungguh menyakitkan. Bahkan rasanya ia seperti menjadi seseorang yang paling tidak tahu tentang keadaan dunia sekarang. Meskipun tak bisa menerima semua ini, ia tetap harus menerimanya.

“Risadi? Kamu tidak apa-apa?”

“Vidya, bohong jika aku mengatakan, ini tidak menyakitkan bagiku. Tapi, apapun yang kau lakukan, aku akan selalu berdo’a untukmu. Kalau kau membutuhkan bantuanku, panggil saja aku. Vidya, kumohon jangan pernah menyingkirkanku dari kenanganmu tentang masa ini. Karena kemanapun aku pergi dan kemanapun kau pergi, kau akan selalu jadi wanita di hatiku.” Risadi berbalik kea rah A’am. “A’am….” Ditatapnya A’am dengan tajam. “Kau telah membohongiku. Bagaimana bisa aku memenangkan hati Vidya seperti yang telah kau katakana padaku. Tapi, bagaimanapun juga, kaulah pria yang telah dipilih Vidya. Dan Vidya tak mudah digoyahkan mengenai ini.”

Kemudian, Risadi berlalu. Ia melangkah menjauh. Diambilnya sepeda motor Gilang. Dan seketika motor itu telah melaju dijalanan.

“Risadi, carilah seorang gadis yang bisa menatapmu dengan cinta,” gumam Vidya.

Motor yang dikendarai Risadi terus melaju di jalanan, “ jadi, selama ini aku hanya bisa menatap gadis yang tak pernah menatapku dengan cinta,”

Meskipun ini semua sangat menyakitkan, Risadi tak pernah menyesali perasaan tulus yang hadir di hatinya yang hanya untuk Vidya. Dan rasanya ia tak kan pernah sanggup untuk membuang jauh perasaan itu dari hatinya. Bahkan ia tak mampiu untuk mengusirnya sekalipun.

SALAHKAH AKU YANG MENYUKAINYA?

Duduk di sudut yang gelap. Di sebuah ruangan yang berdebu dan begitu berantakan.sudah beberapa kali dilihatnya kecoa-kecoa dan tikus-tikus berkeliaran. Ia hanya duduk sambil memejamkan matanya setiap kali samar-samar dilihatnya binatang-binatang itu. Ia duduk sambil mendekap kakiknya di depan dadanya sambil tak henti menangis sesenggukan dan gemetar keatakutan. Mallu dan berbagai kemungkinan yang memnuhi pikirannya.

Sementara itu di luar sana, teriakan, cacian, maki8an, juga bentakan tertuju padanya. Tak ada yang bisa dilakukannya. Ia tak mungkin bisa melawan mereka yang sebanyak itu seorang diri.

Fiersha membayangkan awal dari semua kemalangannya ini.

Firshya tidak memiliki teman dekat yang bisa diajaknya untuk curhat. Biasanya ia menumpahkan perasaan dan pikirannya lewat tulisan di buku diarynya.

Malam itu, Fiersha mulai menulis lagi.

Aku baru mengenalnya hari ini. Dia orang pertama yang kutemui di SMA ini. Mereka menyebutnya pangeran. Tentu saja itu sebutan yang sangat pantas untuknya. Selain tampan dengan style yang sangat keren, dia juga sangat manis dan memiliki banyak talenta. Dan mereka bilang dia juga anak paling kaya di SMA ini. Dia seorang pemain basket, vokalis sekaligus gitaris band andalan sekolah. Tapi, kau tau? Aku menyukainya bukan karena itu. Aku menyukainya lewat sepasang mata teduh dan seulas senyum manis yang dimilikinya.dan entah karena apa lagi yang tak bisa kukisahkan karena aku sendiri belum mengetahuinya dengan jelas. Dan detaka jantungku berijma dengan sangat syahdu setiap kali kulihat sosoknya. Dialah pangeran hatiku. Radit.

Tapi, tiba-tiba hari itu semuanya berubah menjadi sangat menakutkan. Tiba-tiba cewek model yang ada di kelas XII IPS 2, mendatanginya sambil memaki Fiersha.

“Dasar, Kuper! Tau diri donk!!”

Fiersha kaget dan jadi agak takut.

“Seenaknya bilang Radit pangeran hati loe!” dijambaknya rambut FIersha. “Radit itu pangeran sekolah! Bukan pangeran loe! “

“A... Apa maksud kakak?”

“apa maksud kakak? Ternyata selain kuper, loe juga bego, ya!”

“Salah aku apa, ya?”

“Apa salah loe?” Margareth menarik tangan Fiersha dengan kasar. “ Sini loe!”

Dan dengan terpaksa Fiersha mengikuti langkah Margareth. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Bahkan semua siswa yang mereka lewati, memandang Fiersha dengan sinis dan marah.

“Ini apa?” margareth menunjuk sebuah kertas yang tertempel di Mading sekolah setelah mendorong Fiersha ke depan MAding. “haha? Masih nyangkal loe?!! Asal loe tau, gak pernah ada yang berani bilang Radit pangerannya. Semuanya pasti bilang, Radit pangeran sekolah! Karena Radit belum memilih seseorang sebagai putrinya. Dan meskipun dia sudah memilih, tidak mungkin putri itu gadis kuper dan bego kayak loe!” bentak Margareth.

Mata Fierhsa terus tertuju ke madding. Apa itu? Itu tulisan tangan tentang perasaannya yang ditulisnya bheberapa malam yang lalu. Kenapa tulisan itu ada di Mading sekolah? Bagaimana bisa? Fiersha ingin melangkah kembali ke kelasnya, ingin memeriksa buku diarynya.

“Mau kemana loe?” margareth kembali menangkap tangan Fiersha dan memegangnya dengan sangat kuat.

“Aww!”tentu saja itu membuat Fiersha kesakitan.

“Loe boleh seneng waktu nulis ini. Tapi, jangan piker loe bakal bisa hidup tenang setelah ini! Kami semua gak mau pangeran ketiban sial karena cewek kayak loe!”

Fiersha memandangi Margareth dengan marah. Apa-apaan ini? Kenapa dia semarah ini hanya karena Fiersha menulis, Radit pangeran hatinya?

“Pergi loe!” teriak Margareth.

Fiersha berjalan kembali kea rah sekolahnya. Tapi, belum jauh ia melangkah, seseuatu menghalangi kakinya hingga ia terjatuh ke lantai.

Semua siswa yang melihatnya menertawakannya.

Lalu, Fiersha bangkit lagi yang tiba-tiba seember air langsung disiram ke wajahnya.

Fiersha melihat ke sekelilingnya. Semua siswa terus memandanginya dengan penuh kebencian tanpa terkecuali.

Apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi berwsikap seperti ini padanya. Ini kan hanya masalah kecil.

Fiersha kembali melangkah. Tepat di depan pintu kelasnya, Fiersha dihalangi oleh seorang gadis yang berkacak pinggang.

“Menyenangkan, bukan? Permainan baru dimulai, Fiersha! Kami semua tidak akan membiarkanmu bisa bernafas lega di sekolah ini.” bisik gadis itu dengan sinis.

Fans-fans yang sangat menakutkan. Di mana Radit sekarang. Mungkin hanya dia yang bisa menghentikan ini semua.

*****
Ya, apa yang dibicarakan Margareth waktu itu, semuanya benar-benar terjadi. Sudah seminggu ini, Fiersha terus-terusan dikerjai anak-anak di sekolahnya. Mulai dari dimasukkan tikus ke dalam tasnya, kursinya diberi lem tikus, difitnah, dimaki, diejek, sampai sepeda kesayangannya dirusak jadi berkeping-keping. Dan anehnya gak ada satupun yang berada di pihaknya. Guru sekali pun tidak. Ini sekolah atau tempat apa sih?

Selain itu, Fiersha tak pernah lagi melihat Radit sejak seminggu yang lalu. Kabar tentang dirinya pun tidak ada. Apa sesuatu telah terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja?

Dan inilah puncaknya. Dan ini benar-benar membuat Fiersha ketakutan. Apakah menyukai orang bisa membuat diri sendiri semenderita ini? Dan ini juga hal pertama yang membuatnya menangis karena insiden ini. Dengan paksa, Fiersha diseret beberapa siswi yang dipimpin oleh Margareth dan disaksikan oleh semua siswa. Dan semua siswa yang mereka lewati melempari Firsha dengan telur busuk dan tepung busuk juga. Fiersha diseret dan dilempar begitu saja ke dalam gudang sekolah dan menguncinya dari luar.

Fiersha menangis. Bagaiman bisa mereka melakukan ini semua terhadapnya? Ini sudah benar-benar melanggar hak asasi manusia. Apa Radit dan guru-guru tidak bisa menghentikan perlakuan mereka yang sungguh tidak berprikemanusiaan ini terhadapnya? Di mana mereka?

“Dasar kutu busuk! Loe emang pantesnya di situ! Bareng temen-temen loe yang sama busuknya itu, kecoa-kecoa dna tikus-tikus. Biar loe nyadar diri.” maki Margareth dari luar gudang.

“Berani-beraninya loe bilang, Radit pangeran hati loe! Nyadar diri donk! Apa pantes loe jatuh cinta sama Radit!”

Apa salahnya jatuh cinta? Radit pantas dicintai dengan tulus bukan dengan perasaan yang menggebu-gebu penuh dengna keegoisan seperti yang mereka rasakan. Fiersha bukan orang yang mudah berubah apalagi yang ada kaitannya dnegan perasaan.

Tapi, sekarang Fiersha tak mau memperpanjang masalah ini lagi. Tak ada gunanya dia melawan mereka yang penuh dengan kebencian itu dengan kebencian juga.

Saat semuanya berteriak dan memakinya, diam adalah pilihan terbaiknya. Ia tak mau menyerah. Tapi, rasanya ia juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ini sudah benar-benar keterlaluan.

“Biar mampus loe sekalian!”

*****
Tepat saat jam pulang sekolah, tiba-tiba piintu gudang terbuka. Pintu yang berderet menyadarkan Fiersha yang terkulai lemas.dengan lemah, Fiersha bangkit berdiri. Dengan gontai, ia berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing.

Setibanya di luar, dilihatnya ke sekelilingnya. Sepertinya semuanya sudah pulang. Koridor tampak sangat sunyi didampingi dinding-dinding yang membisu. Tak terdengar suara-suara ataupun hanya derap langkah kaki.

Fiersha berjalan menuju kelasnya. Setelah membereskan barang-barangnya yang berserakan di lantai kelas dan ada beberapa yang sudah rusak, Fiersha bergegas kembali melangkah. Kali ini langkahnya menuju temapt parker untuk mengambil sepedanya. Lalu dengan lambat, ia mengayuh sepedanya menyeberangi lapanagn sekolah yang cukup luas kea rah gerbang sekolah.

Tapi, tiba-tiba…..

Brakkk!

Sesuatu menabrak sepedanya dengan sangat keras.

Fiersha pun terlempar jauh dan terjatuh seketika. Tubuhnya terhempas. Rasa sakit langsung memenuhi seluruh tubuhnya. Di beberapa bagian tubuhnya pun mengalami luka dan berdarah. Fiersha terkulai lemas.

Sebuah mobil Honda jazz hitam sedang memamerkan dirinya di tengah lapangan itu. Tak berapa lama, pemilik mobil keluar dengan penuh rasa kesombongan dan kemenangan. Dengan samar-samar, Fiersha dapat melihat semua itu. Margareth! Margareth memandangi Fiersha dengan jijik.

Lalu terdengar suara gelegar tawa. Denagn sangat perlahan, Fiersha mengitari sekelilingnya. Seluruh siswa tampak sedang memandanginya sambil tertawa dan terus emngejeknya.

“Bego loe! Loe piker, loe bisa bernafas lega setelah ini?! Gak akan, tikus got! Kami gak akan tinggal diam loe akan terus hidup dalam penderitaan! Untuk selamanya!” maki Margareth.

“Margareth!” teriak marah seseorang. Dan seketika gemuruh suara itu terhenti.

Fiersha ingin melihat kea rah suara itu, tapi tiba-tiba ia tak melihat apa-apa lagi. Semuanay gelap.

*****
Ia membuka matanya. ia melihat dengan samar sebelum dapat melihat dengan jelas. Lalu diedarkannya pandangannya ke sekelilingnya. Putih. Di mana dia sekarang?apaka ia sudah….

“Fiersha! Kamu sudah sadar?” seru sengan sebuah suara yang begitu dikenalnya.

“Ka…” seru Fiersha dengan lemah.

“Fiersha, syukurlah.” Cowok itu menggenggam tangan Fiersha sambil tersenyum terharu.

Fiersha pun berusaha tersenyum.

“Bisa-bisanya kamu nyembunyiin masalah sebesar ini sama kakak! Perlakuan mereka sudah di luar tingkah manusia, Sha. Harusnya kamu bilang dari awal. Kamu tau kan aku begitu mengkhawatirkanmu.”

“Kak!” ucap Fiersha dengan pelan. “Aku sudah gak apa-apa. Kakak tidak perlu cemas lagi.” Fiersha mencoba menenangkan kakaknya, Angga.

Fiersha dan Angga adalah kakak beradik yang saling menyayangi. Apalagi sudah hamper setahun ini kedua orang tuanya kerja di luar negri. Jadilah mereka berusaha saling melindngi dan menjaga. Tapi, rasanany Angga telah gagal melindungi adiknya, karena itu dia begitu marah dengan kejadian ini.

“Kakak sudah lapor ke pengacara papa. Dan sekarang masalah ini sedang dalam tahapan penyelidikan untuk mendapatkan bukti-bukti yang akurat dan akan segera dilangsungkan sidangnya.”

“Tapi, Kak….”

“Kamu gak perlu takut. Kan ada Kakak. Kakak gak akan membiarkanmu mengalami hal seperti ini lagi.” Angga membelai rambut adik semata wayangnya. “Kepindahanmu juga sudah diurus. Dan satu sekolah itu yang akan bertanggung jawab dengan kejadian ini.”

“Semuanya?” Fiersha memikirkan Radit. Radit tidak boleh ikut diadili karena dia tidak tahu apa-apa tentang ini.

“Tapi, Radit….”

“Kamu masih memikirkannya? Bukankah kamu diperlakukan seperti ini karena dia!”

Fiersha menggeleng dengan lemah. Tubuhnya masih sangat lemah dan sakit. Kak Angga pasti akan melakukan yang terbaik untuk dirinya. Tapi, ini bukan salah Radit. Radit bahkan tidak pernah melihat ke arahnya apalagi menggodanya hingga Fiersha bisa menyukainya. ini adalah perasaannya sendiri yang begitu menyukai radit. Meskipun, akhirnya harus begini, Fiersha tidak menyesal telah emnyukai Radit.

“Sudahlah. Kamu istirahat saja. Jangan memikirkan macam-macam dulu,” nasehat Kak Angga.

*****
Sementara itu lewa kaca jendela kamar rumah sakit itu, seorang pria mengintip dan mencuri dengar perbincangan kedua kakak beradik itu. Lalu, ia menunduk dan bersandar di pintu itu. Sebegitu besarnya rasa suka yang dimiliki Fiersha terhadap dirinya. Bahkan ia tak menyalahkanku berkaitan dengan apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri.

Fiersha, sebenarnya aku begitu senang saat membaca tulisanmu di diary yang kamu tinggalkan di perpustakaan itu. Dan hari itu, saat aku menempelkannya di Mading, aku berharap akan langsung mengumumkan bahwa aku juga menyukaimu dan ingin kamu yang menjadi putriku. Tapi, ma’af. Hari itu, aku dapat kabar tentang ibuku yang sedang ada di Sukabumi, di tempat nenekku. Beliau sakit. Jadi selama seminggu itu aku menemani beliau dirawat di rumah sakit terdekat sampai beliau membaik. Lalu, saat aku sudah kembali ke sekolah, aku menyaksikan kejadian itu. Aku melihat mobil Margareth menabrakmu dengan brutal. Dan kata-kata kasarnya terhadapmu benar-benar hal buruk. Ma’af, Fiersha. Aku bahkan tidak bisa datang menjengukmu. Kakakmu___ dia pasti sangat marah dan benci padaku. Fiersha, meskipun enah sampai kapan aku baru bisa menyatakan perasaanku kepadamu, setidaknya dalam waktu dekat ini, aku masih bisa melakukan hal baik padamu.

Lalu, tiba-tiba pintu kamar itu dibuka dari dalam.

Pria ini langsung menyadarinya dan berdiri dengan agak takut karena merasa sangat bersalah.

Angga memandangi pria yang sekarang berdiri dihadapannya dari atas sampai bawah. Hamper saja emosinya kembali meledak setelah disadarinya pria itu memakai seragam SMA yang sama dengan seragam SMA adiknya.

“Kamu….!”

Pria itu menundukkan kepalanya dengan hormat ssambil menyodorkan sebuah kaset video. “ Kumohon, terimalah.”

Sejenak, Angga dapat mengendalikan emosinya. “Apa ini? Kamu siapa?”

“Sekarang hanya ini yang bisa kulakukan untuk adikmu.” ucap pria itu. “Ma’afkan aku!”

Pria ini pun langsung berlari menjauh.

Dengan keheranan, Angga membolak-balik kaset video itu.

Phobya Sahyla

Hujan mengalir deras. Bulir-bulirnya seperti kembang api. Indaaah banget. Seketika dedaunan bsaah sambil bergoyang-goyang dijatuhi tetsan air hujan. Danterciptalah sumur-sumur kecil di atas tanah.
Sahyla dan Hengky merapat ke pinggir jalan, menjadi tempat untuk berteduh. Untungnya di pinggir jaan saat mereka diserang hujan ada sebuah pohon yang rindang. Pohon yang pas banget dipakai sebagai tempat istirahat nunggu hujan berhenti. Sahyla dan Hengky pun berteduh di bawahnya.
Sahyla melipat tangan di depan dada. Dingin banget. Sesekali cewek berlesung pipit ini menengaah ke langit. Melihat langsung rintik-rintik hujan dengan cermat. Indah.
Tiba-tiba Sahyla merasakan kehangatan. Dengan terepranjat, Sahyla menoleh ke samping, ke arah Hengky.
Hengky tersenyum sambil membenarkan jaketnya yang baru saja diletakkannya di tubuh Sahyla.
Sahyla tersipu malu, “Makasih,” ucapnya.
Kebiasaan menjadi bahasa diantara sepasang insane itu. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Sahyla….” Hengky menggantung kalimatnya.
“Iya?” Sahyla memberanikan diri untuk menatap Hengky.
“Kayaknya hujannya bakalan lama deh.”
Ada raut kecewa di wajah Sahyla. Tadinya Sahyla piker, mungkin Hengky akan mengatakan sesuatu yang istimewa. Lalu Sahyla sadar….
“Sahyla….” Hengky mencoba mengulang kalimat yang benar-benar ingin diutarakannya. “Loe tau gue gak puitis karena gue emang bukan pujangga. Gue gak bisa nyiapin kata-kata yang indah buat ngungkapin perasaan gue ke loe.”
Dug! Ada getar yang berbeda di dalam dada Sahyla. Sahyla tau, Hengky memang suka bercanda. Tapi, gak pernah bercanda sampe bawa-bawa perasaannya seperti ini. Dan kali ini, cara bicara Hengky juga beda. Mungkinkah kali ini Hengky akan mengatakan sesuatu yang serius?
“Gue__ sayang__ sama loe__ lebih dari temen.”
Sahyla terhenyak. Hujan turun semakin deras, ikut memacu detak jantungnya.
Perlahan Hengky memegang kedua bahu Sahyla, mengajak cewek manis itu berhadapan dengannya. “Gue berani ngomong kayak gini karena gue lihat di mat aloe juga ada cinta buat gue.”
Sahyla menundukkan kepalanya. Saat-saat seperti inilah yang diharapkannya sejak mulai menyukai Hengky. Tapi, tidak pernah terpikir sebelumnya, ketika saat itu tiba, Sahyla malah merasa agak takut. Entahlah, kenapa bisa merasa takut? Sahyla mencoba tak menghiraukan ketakutannya dan memikirkan hal-hal bahagia yang bisa dilakukannya bersama Hengky.
Kemudian, Sahila mencoba membalas tatapan Hengky yang sedari tadi sudah menunggu jawabannya. Seolah Sahyla ingin menemukan segores kejujuran di balik mata itu.
“Gue….”
Belum selesai Sahyla dengan kalimatnya, dirasakannya Hengky menggenggam lembut kedua tangannya. Cowok itu mengumbar senyum termanis yang dimilikinya.
Hujan terus berlanjut. Di t elinga Sahyla, bunyinya seperti nyanyian yang indah tentang cinta. Kini seluruh tubuhnya pun dijalari oleh kehangatan rasa bahagianya.
Sementara itu, Hengky tersenyum puas. Cowok ini telah mendapatakan apa yang diingankannya. Dan Sahyla tidak termasuk di dalamnya.
*****
Saat ini hujan telah menjadi momen terindah dalam hiduyp Sahyla. Di tengah derasnya hujan, Sahyla telah menemukan terbalasnya cinta yang selama ini dipendamnya. Hengky, cowok yang selama ini telah mengisi kekosongan di kesendiriannya, kini telah menjadi kekasihnya. Nama Hengky terukir indah pada lukisan terindah yang berada di hatinya.
Tapi, sejak hari itu, hari pertama yang menyaksikan sungai kecil mengalir dari mata Sahyla…. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di dalam hidupnya. Sahyla menangis karena seorann cowok. Cowok yang disayanginya telah menorehkan luka di hatinya. Luka yang begitu perih. Hingga kikni p[un belum terobati sepenuhnya.
*****
Hujan kembali membasahi bumi. Udara yang begitu dingin. Rasanya hanya ingin membenamkan diri di dalam kamr, berlindung di bawah selimut yang hangat. Namun, tidak begitu dengan Sahyla. Ketika mama menyuruhnya untuk membeli gula pasir, Sahyla segera pergi kelur rumah dengan senang hati.
Sahyla pergi ke warung yang letaknya tak jauh ari rumahnya. Dengan memakai paying, Sahyla melangkah sambil bersenandung ria. Di tengah jalan, Sahyla melihat pemandangan yang tidak pernah terlintas di benaknya. Sekalipun hanya setitik.
Di depan sebueah toko yang sedang tutup, sepasang kekasih yang sedang berteduh dengan mesranya. Si cowok merangkul ceweknya, berharap dapat berbagi kehangatan. Dan ceweknya bersandar dengan manja. Keduanya tampak sangat bahagia.
Sedangkan Sahyla berharap apa yang dilihatnya itu tidaklah nyata. Cowok itu Hengky. Benarkah itu dia? Dengan ragu dan hati-hati, Sahyla menghampiri sepasang keksaih itu.
Sahyla melangkah semakin mendekat. Betapa terkejutnya dia, hingga payungnya terlepas dari tangannya. Benar. Cowok itu memang Hengky, cowok yang abru satu minggu inimenjadi kekasihnya.
Sedangkan Hengky sama sekali tidak terkejut saat menyadari kehadiran Sahyla.dia sama sekali tidak mempedulikan kehadiran gadis itu.
“Hengky….” Sahyla membuka mulutnya dengan mata berkaca-kaca.
“ada apa?” tanya Hengky sinis tanpa menoleh ke arah Sahyla.
Justru gadis berambut panjang itu yang menoleh kea rah Sahyla.
“Elo….” Sahyla tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sahyla hanya mampu memandangi cewek yang masih di pelukan Hengky itu.
“Oh, kenalin, ini Mirella, cewek baru gue,” kata Hengky cuek. “Dan Mirella, ini temen sekolah aku.”
“A__ Apa?” sahyla tersentak. Hatinya rasanya perih banget.
Cewek yang bernama Mirella itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “Mirella.”
Tapi, Sahyla tak menyambutnya. Sahyla hanya bisa terdiam dalam kesedihannya.
“Loe kenapa? Kelihatannya loe lagi bad mood deh, mending loe pulang aja,” ujar Sahyla.
Hengky…. Jadi, benar kata-kata Andien selama ini. “Loe jangan percaya gitu aja sama Hengky. Sebelum pacaran, loe harus tau dulu gimana dia yang sebenarnaya. Gue denger, Hengky itu suka gonta-ganti cewek.”
Saat itu, Sahyla hanya tersenyum tidak percayapada sobatnya itu. Kaena baginya, Hengky adalah cowok yang terbaik. Udah gitu tampan, keren, dan romantis lagi. Tapi, sekarang Sahyla baru menyadarinya. Ternyata Hengky tak sebaik yang dikenalnya selama ini.
Sahyla masih berdiri terpaku dengan aliran sungai kecil yang tak berhenti mengalir dari matanya. Sahyla masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
Sahyla terluka di kali pertama merajut kasih sayang dengan cowok. Padahal Sahyla benar-benar menyayangi Hengky. Sangat menyayanginya.
“Koq masih di sini? Pulang gih daripada nanti loe sakit.” Ucap HEngky dengan manis.
“Sayangku, kamu baik banget sih sama orang lain,” puji Mirella.
Hengky tersenyum pada Mirella.
Sahyla menatap Hengky dengan tajam. Ada berates kekecewaan, beribu kesedihan, dan berjuta kepedihan yang terpancar dari sorot matanya. Cowok, kejam banget sih.dengan mudahnya seorang cowok seperti Sahyla menghancurkan hati Sahyla.
Sahyla pun berlari pulang ke rumahnya. Kejadian itu telah membuatnya lupa dengan tujuan utama keluar rumah sore itu. Bahkan Sahyla juga lupa membawa payungnya. Cewek sederhana ini terus berlari di tengah derasnya air hujan. Tetsan air matanya pun menyatu dengan tetesan air hujan.
*****
Kejadian hari itu benar-benar telah mengubah hidup Sahyla. Dia jadi phobia dengan hujan dan cowok. Karena cowok adalah makhluk yang begitu kejam yang tega menyakitinya. Dan hujan__ entahlah. Mungkin karena saat itu hujan yang telah menyaksikan kejadian itu. Sejak saat itu, Sahyla selalu bersikap jutkek pada setiap cowok. Dan gak jarang tementemen ceweknya menganggapnya cewek aneh.
Hanya Andien yang selalu berada di sisinya. Andien adalah sahabat yang sangat mengerti dirinya. Begitu juga sebaliknya. Karena rasa sayangnya kepada sobatnya itu, Andien selalu berusaha untuk mengobati phobia yang diderita Sahyla.
*****
Setahun kemudian.
Peristiwa di tengah derasnya hujan itu telah menjadi kenangan terburuk bagi Sahyla. Setelah hari kelulusannya di SMA. Sahyla gak pernah lagi bertemu dengan cowok playboy yang berhati batu itu.Kini, sudah tiga bulan Sahyla menjadi mahasiswi di sebuah universitas negri di kota tempat tinggalnya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan sudah sejak satru jam yang lalu perkuliahan hari itu telah berakhir. Tapi, Sahyla belum beranjak dari tempat duduknya. Karena di luar sana kembali terjadi perang hujan yang cukup deras. Dan Andien dengan setia menemaninya. Meski mereka hanya saling diam. Andien tau, saat ini phobia cowok dan hujan yang dialami Sahyla, kumat lagi.
Sahyla duduk bersandar di kursinya dengan tatapan kosong.
Di sisi lain ada seorang cowok yang sedari tadi tak berhenti memperhatikan Sahyla. Cowok yang tertancap panah amor di hatinya sejak pertama kali bertemu dengan Sahyla. Nizar. Cowok itu bukan seseorang gak gampang menyerah.diantara cowok-cowok yang menyukai Sahyla, hanya Nizar yang tidak pernah menyebut bahkan sampai menegjek sikap cuek Sahyla pada cowok.
Nizar selalu berusaha mencari tau tentang Sahyla. Dan Andienlah tempat konsultasinya. Tentu saja Andien bersedia menolong cowok itu. Karena Andien juga melilhat ketulusan yang dimiliki oleh Nizar untuk Sahyla. Selain itu, Andien juga gak ma uterus-terussan melihat sobatnya itu larut dalam kesedihan di masa lalunya. Dan semoga kehadiran Nizar bisa mengobati luka di hati Sahyla.
Nizar juga telah mengetahui tentang phobia Sahyla, cowok dan hujan. Karena itu, NIzar selalu hati-hati dalam menjalankan PDKT-nya sama Sahyla.
“Sahyla, koq belum pulang?” Tanya Nizar setealh duduk di depan Sahyla.
Sahyla tak bergeming.
“Sebelumnya gue minta ma’af nih. Loe lagi sedih, ya?”
Sahyla memandang Nizar dengan marah tanpa bicara.
“Sahyla, semua orang punya masa lalu. Ada yang pahit, ada juga yang manis. Loe pasti bakal jatuh kalo terus-terus jalan sambil melihat ke belakang. Masa lalu yang pahit itu bukan untuk ditangisi. Tapi, menjadi pembelajaran agar kita tak mengulangi kesalahan yang sama lagi.”
Sahyla langsung melototin Nizar. “Apa peduli loe!? Dasar cowok! Semuanya sama, selalu merasa dirinya lebih hebat dari cewek. Seenaknya menyakiti hati cewek!” bentak Sahyla.
Adu__ Phobyanya parah banget.
Andien mendengus sedih dia sudah sering menasehati Sahyla tentang yang satu ini. Tapi, nasehatnya itu belum juga bisa menyembuhkan phobia Sahyla. Mungkin hanya sesuatu yang murni dantulus yang bisa mengobatinya. Cinta sejati. Andien berharap Nizar bisa memberikannya pada Sahyla.
“”Gue peduli sama loe, Sahyla.”
“Peduli? Sekarang loe bisa bilang peduli! Semua orang juga bisa bilang peduli. Udah deh. Kita gak punya urusan. Mending, sekarang loe pergi! Gue pengen sendiri.”
Nizar mengerti kenapa Sahyla sampai bersikap seperti itu. Ini pasti karena luka yang ditorehkan oleh cowok itu terlalu perih bagi Sahyla. Sehingga Sahyla gak mau sampai mengalami hal yang sama lagi. “Siapa bilang gue gak punya urusan sama loe! Nizar balas membentak Sahyla.
Sejenak Sahyla terperanjat. Begitu pula dengan Andien.
“Gue gak mau lihat loe sedih terus. Apalagi hanya karena cowok playboy.”
Andien tersenyum. Ini cara Nizar. Dia mengerti itu.
“Maksud loe?” tanya Sahyla lebih lembut.
“Sahyla, loe harus tau, hujan adalah anugerah. Dan dunia gak hanya diisi oleh cowok-cowok playboy.”
“Apa yang loe tau tentang gue? Kenapa loe mau tau tentang gue?”
“Gue peduli sama loe. dna gue gak mau loe sedih lagi hanya karena cowok playboy.”
Sahyla bungkam.
“Sahyla, tataplah ke depan. Waktu terus bergulir dan kita gak pernah tau seberapa lagi waktu yang kita punya hingga saatnya tiba. Jadi, jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengenang masa lalu yang pahit. Loe pasti bisa menjalani hidup loe yang baru tanpa dibayangi masa lalu yang pahit itu.”
Sahyla menundukkan kepalanya, berpikir sejenak. Apa yang diaktakan Nizar meemang benar. Kenapa sebelumnya gak pernah terpikir di benaknya. Untuk apa menyia-nyiakan waktu hanya dengan mengenang masa lalu yang pahit itu? Itu adalah masa lalu yang gak boleh terulang lagi. Dan bayangan tentang Hengky sama sekali gak berhak terus menghantui hidup gue.
“Loe bener. Thank’s, ya,” ucap Sahyla tulus.
“Sama-sama.”
Sahyla tersenyum.
Senyumnya manis banget, gumam Nizar. Dia pun membalas senyum itu.
Dari tempatnya Andien yang merhatiin usaha Nizar kali ini, ikut tersenyum. Ini kabar baik. Sahyla udah masu tersenyum sama cowok, di saat hujan pula.
“Hmm…. By the way, siapa nama loe?” tanya Sahyla pada Nizar.
“Hah?” Nizar kaget. “Jadi selama ini loe bahkan gak tau siapa nama gue?”
“Apa untungnya gue tau nama cowok?” ujar Sahyla pura-pura jutek lagi.
Nizar melotot tidak percaya. Jadi usaha gue barusan gak berhasil, ya? Batinnya.
“Namanya Nizar Erlangga,” Andien ikut gabung bersama mereka berdua. “Syukurlah loe udah sembuh,” ucap Andien sambil merangkul sobatnya itu.
“Sembuh? Gue? Emangnya gue sakit apa?” Sahyla gak mau ngaku tuh.
“Makasih ya, Nizar.” Andien beralih memandangi Nizar sambil tersenyum. “Kata-kata loe ampuh juga buat sobat gue ini.”
Sahyla tersenyum.
“Jadi namanya Elang, ya? Koq kayak nama burung, ya?” canda Sahyla.
Sahyla dan Andien pun tertawa lepas. Tertawa tanpa beban.
Nizar tersenyum melihat kebahagiaan kedua sahabat itu. Ternyata usahanya kali ini gak gagal. Gak pa-pa kalo Sahyla memanggilanya dnegan sebutan Elang. Karena Sahyla telah mendapat tempat VIP di hatinya. Dan Nizar berjanji akan melakukan apapun untuk membuat Sahyla sealu bahagia. Tidak akan dibiarkannya Sahyla bersedih lagi.
“Hei Elang!” Sahyla mengibaskan tangannya di angin depan Nizar. “Kita pulang, yuk!” ajak Sahyla yang sudah berdiri sambil bergandengan tangan dengan Andien.
Nizar baru menyadari panggilan Sahyla. “Tapi, masih hujan kan?” nizar masih ingin berlama-lama dengan Sahyla.
“Kan ada kalian berdua.” Sahyla memandang Andien dan Nizar bergantian. “Yuk!” Ditariknya tangan Nizar.
Ketiganya pun mealngkah bersama.
“Sahyla, gue gak akan pernah bikin loe sedih,” bisik Nizar.
Sahyla tersenyum dan balas berbisik pada Nizar, “Mungkin akan perlu banyak waktu untk mencairkan hati gue.”
“Akan kutunggu.”
Sahyla tersenyum bahagia. Rasanya ini memang sudah saatnya untuk membuka pintu hatinya lagi untuk cowok. Meskipun takkan mudah baginya untuk percaya sepenuhnya pada cowok. Tapi, dia akan tetap berusaha. Dan tidak menutup kemungkinan kalo cowok itu adalah Nizar.
Sahyla, aku takkan menyerah untuk mencairkan hatimu. Aku akan menunggumu. Aku tulus dan aku harap kamu bisa melihat ketulusanku ini.


Terimakasih


MISS YOU, NICO!

“Loe beneran mau duel sama Nico?”
Andra hanya mendapat sebuah tatapan dari Rama yang penuh tantangan dan tertuju pada Nico. sedangkan Nico hanya menekur dinding dengan tatapan kosong sebagai pertanda dia menerima tantangan itu.
“OK. Kalo gitu, nanti malam gue yang jadi wasitnya. Dan ingat, loe berdua jangan pada telat datangnya dan mesti sportif mainnya.”
Ketiga cowok ini pun bubar. Andra melangkah ke belakang. Rama duduk di sofa yang ada di ruang tengah itu. Dan Nico berjalan ke kanan, kea rah ruang santai.
Aku segera menghampiri Nico yang sedang berjalan ke arahku.
Saat kami berhadapan, Nico menatapku lekat-lekat dengan mata elangnya yang sendu itu. Tatapan yang begitu lembut.
Kutarik bagian bawah ujung bajunya. Dan kuberucap dengan sedkit berbisik, “Kamu sering keluar malam, ya?”
Aku begitu mencemaskannya, apalagi tentang duel yang baru saja mereka bicarakan.
Sejenak Nico tak bergeming. Nico hanya tetap menatapku dengan lembut lewat mata elangnya yang sendu itu. Tatapan yang membuatku merasa seperti berada di tempat yang begitu sejuk dan tenang. Tatapan yang membuatku semakin menyukainya. Tatapan yang sering kudapatkan darinya dan tak pernah aku melihatnya menghadirkan tatapan seperti itu pada orang lain. Tatapan yang kuartikan sebagai tranda cinta darinya.
“Gak. Kecuali bila ada hal yang urgent,” jawab Nico singkat.
Aku merasa sedikit lebih lega setelah mendengar jawabannya itu. Ah, Nico…. Tapi, aku tetap saja mencemaskanmu.
Aku dapat merasakan bahwa Nico juga menyukaiku, sama besarnya seperti rasa sukaku padanya. Meskipun tak pernah dinyatakannya secara langsung. Naluriku yang telah bercerita tentangnya. Desiran lembut yang selalu menyertaiku setiap saat kubersamanya ataupun hanya dengan mengingatnya. Rasa sayang kami yang telah saling menyatu. Entah kapan akan terwujud menjadi begitu nyata. Dan entah atas dasar apa, sampai saat ini, Nico belum juga menyatakan perasaannya padaku.
Dan tentang Rama. Dia seorang yang lebih emosional daripada teman segenkku yang lainnya. Untungnya emosi itu biasanya hanya tersirat lewat sorot matanya. Dan Rama akan melakukan tantangan seberat apapun untuk mencapai keinginanya. Selain itu, Rama juga seorang yang mempunyai rasa sportifitas yang tinggi.
Nico dan Rama memang kurang akur. Entah kenapa. Memang keduanya tidak pernah berantem dengan otot or saling tonjok-tonjokan. Keduanya lebih sering terlibat adu argument dan beberapa kali kusangsinkan keduenya melakukan berbagai tantangan. Entah apa byang menjadi motivasi mereka untuk saling bersaing sepreti itu. Pernah kuberanikan diri untuk bertanya dan Rama hanya menjawab, “urusan cowok!” Meskipun aku agak gak suka dengan jawabannya. Bukannya sebagai sahabat harus saling terbuka. Tapi, biarlah, kadang memang ada yang menjadi rahasia kita masing-masing. It’s ok, selama itu bukan masalah yang bisa menyebvabkan perpecahan diantara kami.
Dan sekarang___ apalagi yang menebabkan mereka ingin berduel. Dan duel apa yang akan mereka lakoni sekarang? Meskipun aku sangat penasaran, tapi untuk saat ini, aku gak bisa Tanya langsung ke salah satu diantara keduanya. Rama lagi baca majalah dengan sorot emosinya. Sedangkan Nico hanya terus menatapku dnegan lembut lewat mata elangnya yang snedu itu.
Sebenarnay aku malu ditatapnya seprti itu. Tapi, seneng juga sih. 40 perbanding 60 deh.
Nico cowok cool, wajahnya tampan, agak misterius gitu, dan stylenya keren. Sikap Nico dalam kesehariannya persis dengan sikap Rangga di film AADC. Gak kutu buku banget sih, tapi Nico lebih banyak diamnya dna sering hanya tersampaikan lewat sorot matanya. Secara fisik, dari ujung rambut sampai ujung kaki, Nico mirip banget sama Nicholas Saputra. Sampe-sampe Nico sering diminta untuk foto bareng oleh fans-fans Nicholas Saputra saat lagi jalan di tempat yang rame. Tapi, aku menyukainya bukan karena Nico mirip dengan Nicholas Saputra. Bagiku tatapan mata elang Rangga pada Cinta tidak selembut tatapan mata elangnya Nico yang sendu.
Nico, aku menyukaimu karena kamu adalah Nico Adrian. Seorang Nico yang telah mengisi hatiku selama ini.
“Besok malam kamu mau nonton denganku gak?” tanya Nico dnegan sangat hati-hati.
“Mu!” ucapku spontan.
Hamper saja aku terlonjak kegirangan mendengarnya. Pasalnya Nico gak pernah nawarin orang lain untuk nonton dnegannya. Biasanya pasti ada kesepakatan bersama kalo mau nonton bareng. Dan sekarang Nico ngajakin aku! Ini artinay Nico ngajakin aku ngedate! Ini pasti pertanda baik dan akan menjadi awal yang indah. Aku seneng banget. Tentnag izin ke nyokap bokap, dipikirin nanti deh.
Sekarang kami lagi ngumpul di rumah Nico, base camp genk kami. Setiap kali ada waktu kosong untuk sekedar ngumpul ataupun lagi ada PR, kami pasti ke sini.
Kami milih rumah Nico sebagai base camp karena Nico punya pavilion snediri. So, tentunya kami bisa lebih leluasa. Nokap bokapnya juga baik banget. Keduanya ngizinin kami melakukan apapun yang penting ga melanggar norma-noram. Bahkan isi kulkas Nico gak pernah kosong, sealu ada berbagai minuman kaleng dan buah-buahan didalamnya. Selain iitu, juag ada lemari khusus yang sellu dipenuhi berbagai cemilan. Pokoknya kami gak mungkin kelaparan di sini. Nico kan anak bungsu dari dua bersaudara dan bokapnya adalah salah satu pengusaha sukses. Dan sekarang Kak Wulan, kakanya Nico, lagi kuliah di Aussi. Oh iya, diantara keenam anggota genk selain Nico (Rama, Andra, Agus, Tita, Melati, dan aku) akuyang paling deket sama mamanya Nico.
Ah Nico, aku smeakin menyukainya. Apalagi setelah seringnya kudapatkan tatapan tanda cinta itu. Dan aku yakin, tatapan lembut Nico itu tak pernah tertuju ke orang lain selain aku.
Sepulangnya dari basecamp, pikiranku tak pernah lepas dari ajakan Nico untuk nonton dengannya. Dan aku benar-benar senang.

*****
Keesokan harinya….
Hhari ini dapat kunikmati kembali sejuknya udara pagi yang menyelinap masuk ke dalam kamarku lewat ventilasi di atas jendela. Kuawali pagi ini dengan luapan rasa syukur atas ni’mat-Nya yang kian hari kian bertambah, terlebih lagi tentang ajakan Nico kemaren. Dan itu artinya malam ini adalah malam spesialku dengan Nico. Malam untuk pertama kalinya aku dan Nico jalan berdua. Senangnya…..
Jam istirahat, kami segenk melancongke kantin.
Aku, Melati, dan Tita duduk di satu meja. Ngobrol plus ngegosip sambil menghabiskan makanan dan minuman yang sudah kami pesan. Sedangkan Rama, Andra, dan Agus duduk di meja lain yang tak jauh dari meja kami. Gak biasanya hari ini kami gak duduk bareng di satu meja. Tapi, gak masalah. Meskipun atmosfernya agak beda. Obrolan yang kami bicarakan pun seolah hanya mengalir bersama semilir angin, tak ada yang membekas di benakku.
Dan Nico…. Di mana cowok itu? Kenapa Nico gak ikut ngumpul bareng di sini? Bukankah ngumpul bareng seperti ini sudah menjadi ritual rutin kami setiap waktu istirahat? Mungkin Rama tau di amna Nico sekarang. Karena dari kami bertujuh, hanya Nico dan Rama yang gak sekelas dengan kami dna kebetulan keduanya sekelas.
Aku pengen nanya ke Rama tentang Nico. Kutengok Rama. Sejenak kurasa Ramam menatapku dnegan dingin. Lagi-lagi tak seperti biasanya. Apa mungki9n Rama sedang memendam masalah? Mungkin kali ini kuurungkan saja niatku itu. Tak mau mengganggu cowok itu. Rama juga bukan tipe cowok yang mudah terbuka seperti Andra dan Bagus. Ya, Rama adalah tipe cowok yang cool dan misterius. Bahkan sejak berteman dari kelas 1 SMP sampe sekarang, Rama gak pernah pacaran atau Cuma PDKT sama cewek. Bukan karena Rama jelek dan gak ada cewek yang suka sama dia. Banyak cewek yang naksir Rama secara daim-diam atau terang-terangan. Tentu saja, Rama tampan dan keren banget. Setiap ada cewek yang nembak atau nyoba deketin Rama, pasti bakal ditolak. Bukan juga karena Rama seorang gay. Kata anak-anak sih, cewek yang disuka ramam itu ada. Tapi, kami gak tau kenapa sampe sekarang Rama belum juga nembak cewek itu. Padahal kata Bagus, cewek itu cinta pertamanya Rama lho.
Rama, wajah tampan kamu semakin tampak keren dengan pribadi kamu yang misterius.
Meskipun begitu, setampan apapun cewek lain, tetap saja aku lebih menyukai Nico. Salah satunya karena aku sudah terlanjur terepsona dengan tatapan lembut dari mata elang yang sendu milik Nico itu. Terlebih lagi karena aku merasa sangat nyaman saat bersamanya dan aku yakin dia juga menyukaiku.
Oh iya, Nico! Nico ada di maa sekarang? Apa mungkin hari ini dia gak masuk sekolah? Kenapa? Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Nico? Nico, I miss you! Aneh, bahkan anak-anak pun gak ada yang berniat ngomongin Nico yang sekarang entah di mana. Seolah NIco gak pernah ada diantara kami.
Sampai pulang pulang sekolah pun, aku belum ketemu sama Nico. Kekhawatiranku pun semakin menjadi-jadi.
Sepulang sekolah, kami segenkku keluar bareng. Dan berpisah setelah keluar dari halaman parker. Andra dibonceng sama Rama dengan motor ninja hitamnya. Melati, si kutu buku yang gaul, modis, dan feminine bareng sama Tita di mobil yang dikirim papanya untuk menjempuutnya. Sednagkan aku dibonceng sama Agus yang paling bawel, cerwet, dan usil. Tadinya Melati dan Tita ngajak aku jalan ke mall, Nelati mau nyalon di salon langganannya. Tapi, aku tolak. Aku kan mau siap-siap buat nonton sama Nico.
Saat di jalan aku baru ingat, Nico kan punya ponsel;. Kenapa gak dari tadi aku menghubunginya langsung?! Segera kuhubungi Nico lewat ponselku. Dan aku hanya mendapatkan jawaban kalo nomornya gak aktif.
“Loe kenapa sih, Nan? Rama bilang dari pagi loe kelihatan gelisah mulu.”
Segera kusimpan kembali ponselku ke dalam tasku.
“Hah? Gue? Gue gak pa-pa koq,” elakku.
Rama? Meskipun misterius, dia tetap perhatian dengan sobatnya. Tanpa kusadari bibirku tertarik membentuk sebuah senyum
“Nanda! Oi, Nanda!”
“hah? Kenapa, Gus?”
“Tuh kan, keterlaluan banget sih loe! Gue ngomong dari tadi malah dicuekin. Ngelamun lagi!”
“Ma’afin gue, ya. Emang barusan loe ngomongin apaan sih?”
“Rama khawatir banget sama loe yang hari ini. Dia takut loe lagi mendam masalah. Biasanya oe kan selalu cerita, ya paling gak sama Tita dan Melati dulu. Tapi, mereka berdua juga gak tau apa yang merasuki pikiran loe hari ini. Sebenarnay Rama ngelarang gue buat ngomong ini sama loe. Tapi, gue kasihan sama Rama, Nan. Jangan-jangan loe lagi mikirin Bico, ya? Bukannya di kantin tadi kita udah ngomongin Nico. Dia kan lagi ada acara khusus, makanya sekolahnya izin dulu.”
Hah? Agus ngomongin apaan sih? Aku gak ngerti. Rama-Nico___ apa maksudnya?
“Hmm?”
Motor terus melaju di jalanan.
Nan, loe pernah mikir gak sih, gimana perasaan Rama? Loe pernah kepikiran gak, kalo cewek yang ditaksir Rama dari dulu itu adalah loe?” tanya Agus tiba-tiba.
Apa? Aku tertawa kecil untuk menutupi kekagetanku. “Loe kalo ngomong yang bener dong, Gus. Jangan ngaco gitu! Gak mungkin lah, cewek itu adalah gue. Kita kan sobatan.”
“Emang apa salahnya naksir sobat snediri?! Kayak Nico yang juga cinta mati sama loe.”
Hah? Agus tau kalo Nico suka sama aku? Yang bener aja! Gimana nih kalo sampe anak-anak atau tentang ini?
“Nanda, loe ngelamun lagi, ya?”
“Gak koq. Aneh aja. Koq loe tau?”
“He, he, he,” Agus tertawa. “Nanda-Nanda___ itu udah jadi rahasia umum di genk kita lagi. Atau jangan-jangan loe yang terlalu polos, gak ngerti sama isyarat yang dikasih Nico. Heran gue, bisa-bisanya Nico dan Rama naksir sama sobat mereka sendiri yang polos banget kayak loe ini. Tapi, gak masalah mereka naksir loe. Ya, asal mereka bisa bersaing secara sehat aja buat menangin hati loe.”
Rama naksir aku? Dan semua udah tau kalo Nico juga naksir aku? Oh, apa mungkin karena ini, sampe sekarang Nico belum juga menyatakan perasaannya padaku. Karena Nico gak mau hubungan persahabatan kami rusak? Oh, Nico, sekarang apa yang harus kulakukan. Rama cowok yang baik. Bagaimana bisa aku berharap bisa bersama dengan Nico sementara Rama juga menyimpan perasaan yang sama terhadapku? Tapi, aku sayang sama kamu, Nico.
“Jdi gimana nih, Nan? Loe milih yang mana? Nico atau Rama?”
“Maksud loe?”
“Aduh, Nona polos. Udah jelas kan, kalo kedua sobat kita itu, cinta sama loe. Buktinya aja mereka sampe rela adu balap motor untuk menentukan siapa yang lebih dulu menyatakan perasaannya sama loe.”
“Balap motor? Nico dan Rama? Kapan?”
“tadi malam. Dan Nico menang satu detik dari Rama. Bayangin, Nan! Dua cowok yang punya semangat, nyali, dan tujuan yang sama saling adu balap motro. Dan itu semua demi loe. Demi bisa dapetin kesempatan bisa bersama loe. Romantic banget kan, Nan.”
“Koq gue gak tau?”
“Kalo loe tau, itu artinya Tita dan Melati juga bakalan tau. Dan kami tau banget, kalian paling hobi ngelarang ini itu. Daripada dilarang, mending gak usah bilang kan?”
“Tapi, gimana kalo sampe terjadi apa-apa sama mereka?”
“Buktinya gak terjadi apa-apa kan?”
“Tapi.…”
“Udah nyampe nich, Nan. Tita dan Melati belum tau tentang perasaan Rama sama loe. So, mending loe gak usah cerita dulu sama mereka.”
Aku langsung turun dari motor Agus sambil ngucapin terimakasih. Sbeenarnya aku masih mau nanya ke Agus, dimana Nico sekarang. Tapi, keburu Agusnya tancap gas duluan.
Ya, Tuhan. Jadi tantangan yang mereka bicarakan emaren adalah adu balap motor? Dan akulah yang menjadi alasan mereka melakukan adu balap motor itu? Jika samapi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada mereka, tentunya aku akan sangat merasa bersalah. Untunglah mereka gak kenapa-kanapa. Lalu, Nico___ Dimana Nico sekarang?
Setibanya di rumah, aku langsung mengurung diri di kamar. Dan ada sebuah perasaan aneh yang cukup mengusikku.
Haruskah aku menyimpan perasaanku terhadap Nico (lagi) demi menjaga perasaan Rama? Dan aku harus rela tidak bisa bersama dengan Nico. Dan rasanya aku tidak akan pernah bisa melupakan perasaanku pada Nico ini. Aku juga tidak mungkin bersama dengan Rama. Tentunya agar persahabatan kami tetap utuh. Atau aku bisa beicara pada Rama? Kupikir Rama adalah cowok yang cukup bijak untuk menerima siapa cowok yang ada di hatiku, meskipun orang itu adalah sahabatnya sendiri, Nico. Tapi, tentunya Rama juga akan sakit hati.
Seandainya persahabatan kami bisa tetap utuh, aku dan Nico, serta Rama bisa mengerti dan memahaminya…..
*****
Aku tersentak kaget. Kuusap kedua mataku sambil menguap. Lalu kubuka mataku dan melihat ke sekelilingku. Oh, rupanya tadi aku tertidur. Kulihat jam dindingku menunjukkan pukul 5 sore. Kuraih ponselku yang ada di atas meja di samping kanan tempat tidurku. Rupanya message alert tone dari ponselku itu yang telah membangunkanku.
Kubuka pesan singkat itu. Dari Melati.
Sekarang loe ke rumah Nico ya, Nan. Kami semua juga ke sana koq.
Eh, ke rumah Nico? Ada acara apa? Hari ini kan gak ada rencana untuk kumpul di rumah Nico.
Lalu message alert tone ponselku berbunyi lagi. Dari Tita.
Loe ke rumah Nico juga kan?
Nich anak berdua kompak banget, ya. Ya udah, aku ke rumah Nico. Mungkin ada perubahan jadwal.
Tapi, gimana sama janji aku dan Nico? Hmm… mungkin Nico mau ngasih aku kejutan. Lalu, rama gimana, ya? Fuih….
*****
Setibanya di rumah Nico, aku langsung ke paviliunnya.
Di ruang tengah, kulihat Andra dan Agus duduk di lantai bersandar di dinding sambil berangkulan. Dan tampak raut kesedihan di wajah mereak. Keduanya terdiam seperti patung. Pasrah, sepertinya.
Melihat wajah mereka yang tampak sedih itu, membuatku takut. Sebenarnya apa yang telah terjadi sampai membuat mereka sesedih dan sepasrah itu?
Aku menoleh ke arah kamar Nico, tepatnya di seberang Andra dan Agus yang lagi duduk. Pintu kamranya terbuka. Ada Melati dan Tita yang duduk saling berdempetan. Dan mata mereka tampak sembab. Serta ada mama Nico yang duduk di hadapan Tita dan Melati.
Kulangkahkan kakiku ke kamar Nico.
“Nanda!” ucap Melati lembut, namu pasti.
Melati mengulurkan tangannya, mengajakku duduk di sampingnya. Aku pun menurut. Dan mama Nico menggeser duduknya ke dekatku. Aku menatap kasur Nico yang tak beranjang. Ada suatu perasaan aneh saat aku memandangi kasur itu. Entah mengapa aku jadi merasa begitu sedih.
Andra, Agus, melati, dan Tita semuanya tampak begitu sedih. Meskipun Tita dan Melati tak henti-hentinya menguraikan air mata mereka. Sedangkan mama Nico___ meskipun kesedihan juga begitu tmapak di wajahnya, beliau tetap tampak tenang.
Sebenarnya sejak memasuki pavilion ini, aku merasa seolah tak menginjak lantai. Dan Nico___ dimana dia sekarang? Hari ini, bahkan di rumahnya pun aku tak bisa menemuinya. Bukankah mala mini adalah malam istimewa kami! Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Bahkan perasaanku rasanya semakin kalut. Dan benakku tak pernah berhenti memikirkan Nico. Miss you, Nico!
Melati menggenggam tanganku. Dia memberiku isyarat agar aku melihat kea rah TV yang sedang menyiarkan sebuah tragedy meledaknya bom di sebuah mall yanga da di kota kami ini.
Dug! Serasa berhenti detak jantungku. Seolah ini terakhir kalinya nafasku berhembus.
Lewat layar kaca 21 inci itu, aku melihat sesosok tubuh yang telentang dengan tangan membentuk sikap siap dan mata yang terpejam. Wajahnya terlihat dengan jelas. Terlebih lagi sosok itu menggunakan jaket berwarna hijau lumut yang baru minggu kemaren kuberikan kepada seseorang sebagai hadiah ulang tahunnya. Nico!
Ya Tuhan, Nico___ Nico terkena cipratan bom yang meledak pda pukul 16.40 sore ini.
Dari TV itu kulihat banyak orang yang ingin menyaksikan tempat kejadian perkara itu. Dan polisi-polisi yang sedang mengamankan dan menyelidiki TKP. Belum diketahui motivasi dan tersangka peledakan bom itu.
Nyaliku menciut, selemah, serapuh daun kering di musim kemarau panjang. Seketika mataku memanas. Namun, tak kudapatkan air mata menetes di pipiku.
Rama berlari memasuki pavilion Nico. Setelah melihat ke arah Andra dan Agus sebentar, Rama langsung masuk ke dalam kamar Nico.
Kurasakan tubuhku semakin menciut. Rasanya aku sudah tak kuasa lagi, bahkan hanya untuk menahan tubuhku sendiri. Aku rebah. Namun, kurasakan tubuhku mendarat di sebuah tempat yang bidang dan hangat. Ternyata aku tak rebah, tapi bersandar di dada seseorang. Rama. Dia membelai rambutku dengan lembut. Seolah dia tau hal itu dapat memberiku kekuatan. Ditahannya tubuhku di dadanya.
“Hari ini pagi-pagi sekali Nico sudah pamitan.,” Mama Nico memulai ceritanya. “katanya sekolahnya absen dulu. Nico bilang, mau cari hadiah spesial untuk gadis istimewanya. Selain itu, dia juga mu ngasih surprise ke gadis itu, dinner di pinggir pantai, setelah nonton. Karena gadis itu suka sekali dengan pantai. Dan Nico harus pergi pagi-pagi untuk mempersiapkan segalanya agar dinner pertamanya dengan gadis itu tampak sempurna. Tentu saja tante mengijinkannya karena tante juga menyukai gadis itu. Dia gadis yang baik dan sopan.”
Sejenak cerita Mama Nico terhenti oleh isak tangisnya yang tertahan.
“Terakhir, Nico nelpon tante. Dia bilang, Ma, semuanya sudah siap. Sekarang Nico udah mau pulang. Ini udah di luar mall habis beli hadiah untuk nanda. Do’ain Nico ya, Ma! Tapi tiba-tiba telpon itu terputus dan tante mendengar teriakannya. Teriakan Nico…..”
Kali ini Mama Nico tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Nico, ingin dinner dengan gadis istimewanya? Siapa? Mungkinkah gadis itu…..
“Om sudah ke sana untuk menjemput Nico. Ikhlaskan kepergian Nico ya, sayang.” Mama Nico meraih tanganku. “Meskipun Nico belum sempat menyatakan perasaannya sama Nanda, percaya sama tante kalo Nico sangat menyayangi Nanda.”
Nico…. Kita saling menyayangi. Benar-benar saling menyayangi. Aku senang sekali mengetahui hal ini. Dan sekarang…. Kau mendahuluiku bahkan sebelum aku mengetahuinya dan kau membiarkanku mengetahuinya dari orang lain. Nico….
Nico, rasa sayangku padamu akan selalu menyertai do’a-do’aku untukmu.
Aku tak marah dengan Tuhan karena telah mengambil Nico dariku bahkan sebelum aku mengetahui perasaannya yang sebenarnya terhadapku. Aku yakin, Tuhan Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Tuhan pasti punya rencana lain di balik semua ini. Dan Nico, aku rela kau pergi. Aku rela…. Semoga kau tenang di sana dan diterima di sisi-Nya.
Inikah jawaban dari kebimbanganku tadi siang? Kebimbanganku antara persahabatan dan cinta. Nico yang telah pergi. Tidak___ Nico tak akan pernah pergi. Dia akan selalu ada di hatiku.
Kutengadahkan wajahku pada Rama. Seketika aku merasa lebih tenang. Rama tersenyum kecil, seolah berkata, ada aku di sini.
Mama Nico melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Berganti dengan sebuah tangan yang dengan lembutnya menggenggam erat tanganku. Kupandangi tangan itu. Kembali perasaan nyaman itu menghampiriku.
Kutatap lagi wajah Rama. Ia kembali tersenyum sambil merangkulku.
Sejenak aku terhenyak. Senyum Rama sangat mirip dengan senyum Nico. Baru kusadari itu. Dan tampak tatapan misteriusnya selembut tatapan elang milik Nico.
Aku kembali memandangi genggaman tangan itu. Dan aku pun membalasnya.


Terimakasih

INGIN KUHAPUS NAMANYA

Aku memandangi sebidang tanah yang senyap. Tampak dari mata, tempat itu begitu tenang. Dengan pohon bunga kenanga di setiao gundukan yang ada. Pembaringan yang senantiasa ditemani semilir lembutnya angin. Hatiku gundah, terus atau berbalikk…. Rasanya aku tak sanggup. Tapi, aku begitu ingin menemuinya. Walaupun hanya sekedar untuk menyapanya. Andai kesempatan itu menghampiriku.

Akhirnya…. Terasa ringan kakiku melangkah. Dengan mata berat yang berusaha menahan bulir-bulir beningnya, aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya.

Aku melangkah menginjak rumput-rumput pendek yang terawat. Berkali-kali aku mencoba menenangkan diri. Perlahan kutarik nafas dalam-dalam, lalu kuhembuskan semantapnya. Aku akan menemuinya, meskipun hanya begitu semu.

Langkahku terhenti di sebuah gundukan. Gundukan tanah merah yang sudah ditumbuhi rerumputan. Gundukan ini begitu berbeda dengan gundukan lainnya. Di samping gundukan ini__ tumbuh sebatang bunga mawar. Mawar merah yang begitu menawan. Tampak masih begitu segar dengan kelopaknya yang berseri. Sebuah gundukan yang memang disediakan untukku dan orang-orang yang sedang mengalami masa-masa sepertiku saat ini atau setidaknya, menyerupainya.

Kucolek tanah merah di atas gundukan itu. Lalu di nisannya, kutorehkan sebuah nama yang begitu kukenang. Kembali kuhirup nafas dengan perlahan, lalu kuhembuskan. Kutarik seulas senyum di bibirku. Sejenak__ kumenerawang jauh ke masa silam.

Dan kumulai bicara….

“Hai, apa kabar?” selalu kalimat ini yang ingin kuucapkan pertama kali padanya. Kalimat yang kutahu takkan tersampaikan__ entah sampai kapan. Hingga aku bisa bertemu dengannya.

“Aku seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi. Ya__ meski aku agak sedikit takut. Entahlah___ mungkin kamu akan menertawakanku kalo kamu tau tentang ini. Dan dunia pun sudah tentu akan menertawakanku, bahkan mungkin akan mencelaku. Sebab perasaan yang sampai saat ini masih terpupuk asri di hatiku. Setelah sekian lama__ bahkan ketika tak saling bertemu lagi. Waktu yang sangat lama.”

“Sudah kucoba untuk melupakanmu. Atau setidaknya hanya menganggap kau sebagai kenangan terindah yang tak mkungkin terulang. Ini pun tak mampu kulakukan. Ma’afkan aku…. Aku tau ini ini salah. Tapi, aku harus bagaimana lagi? Aku selalu mencoba__ kemaren__ sekarang__ dan seterusnya. Aku akan terus mencoba untuk melupakanmu.

“Setiap aku merasa sudah mampu, bayangan tentangmu kembali menghampiriku. Bahkan aku selalu diterbangkan oleh sebuah harapan. Harapan tentag sebuah kesempatan. Kesempatan akan bertemu denganmu kembali. Padahal aku tau, hal itu merupakan satu perbanding setrilyun dari kenyataan yang ada. Jarak diantara kita begitu jauh. Belum lagi jarak diantara hati kita. Entah dengan menggunakan alat pengukur apa baru bisa terukur. Dan kemungkinan terbesarnya adalah tidak bisa bertemu denganmu lagi.”

“Semakin aku mencoba menghilangkanmu dari benakku, semakin harapan itu mengelilingiku. Harapan yang aku pesimis tentangnya__ mungkin takkan menjadi nyata.”

“Aku tak minta apa-apa. Cukup__ dapat melupakanmu__ adalah hadiah terindah bagiku. Bukan karena aku membencimu. Terlebih karena aku sangat merindukanmu. Dan__ bohong jika kubilang bahwa perasaan yang seperti ini bukanlah suatu beban. Entahlah…. Tapi, kadang__ aku sangat merasa nyaman dengannya. Entah mengapa.”

“Memang__ kadang ada rasa takut jika memikirkan akan kehilangan perasaan yang seperti ini. Rasa yang sedang merindukanmu. Dan aku harus kembali ke dunia nyata. Jalan yang terbentang di depankulah yang patut kufikirkan. Meski__ kadang harapan itu muncul menjadi kabut ungu yang menghalangi pandangan jalan di depanku. Dan saat aku menengok ke belakang__ justru bayangan tentangmu yang dengan bangganya merongrong. Setelah itu aku hanya bisa menunduk, tak kuasa melawan gelombang yang mengombang-ambingkanku itu.”

“Dan aku akn terus mencoba menghilangkanmu, hingga tak berbekas. Dukung aku, ya!”

Kuhapus nama di nisan ini. Aku berdiri. Sebelum aku tinggalkan tempat ini, sekali lagi kupandangi gundukan tanah merah berumput dan bernisan tanpa nama ini. Lalu aku melangkah dengan tekad yang utuh. Aku harus melupakannya!

Semilir angin dan mawar merah membawa aroma kenangan. Dan menjadikannya sebagai aroma wangi yang begitu istimewa.

Aku tak menganggapnya telah meninggal. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa dia bukanlah seseorang yang terbaik itu, bukan seseorang yang diciptakan untuku. Dan ingin kuyakinkan diriku sendiri untuk tidak merindukan seseorang yang bahkan tak kuketahui apapun tentangnya saat ini. Yakin, bahwa aku bisa melupakannya__ menjadi bulir-bulir semangatku. Dia adalah kenangan terindah untukku.

Terimakasih

Aku takut kehilanganmu.

Aku takut kehilanganmu.

Kata-kata itu yang kuucapkan saat itu. Saat kau bertanya kenapa aku berbohong.

Kata-kata itu bukan alasan. Aku tidak tahu. Apakah memang itu yang kurasakan atau hanya itu kata-kata yang terbesit di benakku saat itu.

Ma’afkan aku. Tapi, belakangan aku sadar, bahwa aku memang tidak mau kehilanganmu.

Mungkin sekarang kau bahkan tidak mau mendengar namaku disebut di depanmu. Ya, kurasa kau semarah itu padaku. Aku melepaskanmu tanpa kau tahu sebabnya. Karena memang waktu itu semuanya baik-baik saja. Mungkin sekarang, percuma kau mengetahui hal ini. Karena itu, rasanya lebih baik kau tidak perlu tahu tentang hal ini sampai kapan pun.

Aku mengakui, itu memang salahku. Kesalahan terbesarku.

Kau tahu, betapa tersipunya aku saat pertama kali kau mengajakku bicara lewat pertanyaan sederhanamu. Dan senyum manismu kembali membuatku begitu tersipu. Selalu, saat kau menghadirkannya di depanku. Meskipun bukan kau tujukan untukku saja. Aku sudah menyukaimu sejak saat itu. Lalu, kau pun mulai menghadirkan harapan bagiku. Tepatnya saat kau menyodorkan secarik kertas padaku. Dan aku masih ingat, kau mencari bolpoint saat itu, lalu juga kau ajukan padaku.

“Nomormu!” Kau bilang begitu.

Aku tak mengerti. Mungkin tepatnya berpura tak mengerti. Dan kau memperjelasnya. Aku senang sekali. Dan harapan itu mulai muncul. Saat itu, pertama kalinya kau menyiramkan air pada tanaman bunga mawar merah yang kutanam sendiri. Terimakasih, Ka!

Saat kau menyebutku dengan sebutan ‘adink (adik)’, aku kembali merasakan rasa senang itu. Karena kau yang pertama menyebutku seperti itu.

Ma’afkan aku. Aku menyesal. Aku tak bermaksud menyakitimu.

Dalam selang waktu itu, aku pernah marah padamu. Karena ternyata kau sudah bersamanya. Dan aku baru mengetahuinya setelah cukup lama kita saling menyebut ‘kakak-adink’. Itu pun juga hanya lewat sms. Kita tak pernah saling bertemu di luar gedung RS (tempatmu bekerja) itu. Atau pun hanya berbicara lewat telepon. Ya, itu membuatku menyadarinya, bahwa kau hanya menganggapku sebagai adik. Aku kecewa saat itu. Dan cukup marah. Kenapa kau menghadirkan harapan itu? Kenapa aku begitu lugu sehingga salah mengartikan sikapmu?

Kau tidak tahu itu kan? Kau tidak pernah tahu, bagaimana perjuanganku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau memang hanya menaggapku sebagai adik. Agar aku berhenti berharap padamu. Kau tidak pernah mengetahui ini. Sekarang ini, yang kau ingat tentang aku hanya aku yang melepaskanmu tanpa alasan, bahkan kau mungkin menganggapku mengkhianatimu.

Setelah sekitar satu tahun, aku mulai menikmati kau yang hadir sebagai kakak bagiku. Dan aku sudah ikhlas akan hal itu. Kita masih tetap seperti waktu itu, saling memberitahu dan bertanya kabar lewat sms. Hanya saja frekuensinya jauh berkurang.

Kemudian saat keadaan kembali mengharuskanku berada di gedung RS itu untuk kesekian kalinya. Kita kembali bertemu. Dan itu tidak masalah bagiku. Tidak menyakitkan atau menyenangkan bagiku karena bertemu denganmu kembali. Karena aku sudah bisa menerimamu sebagai kakak bagiku.

Aku tak heran, saat kau menjadi lebih sering menghubungiku dan mulai meneleponku juga. Aku tak berpikir melebihi bahwa kau adalah kakakku. Jadi, aku tak memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Sungguh. Bahkan saat temanku mengatakan padaku bahwa kau menatapku dengan berbeda. Aku tak menghiraukan maksudnya.

“Ya, dia kan kakakku,” Kubilang begitu.

Saat itu aku baru tahu bahwa kau sudah tak bersamanya lagi selama sekitar dua bulan ini. Sekali lagi, ini bukan sesuatu bagiku. Bukan masalah lagi bagiku, kau bersama seseorang atau tidak.

Tak lama kemudian, bagaimana aku menceritakannya?

Kau bertanya padaku, “Apakah aku menyayangimu?”

Kujawab, “Tentu saja. Karena kau adalah kakakku.”

Dan kau mengulangi pertanyaanmu.

Jawabanku pun sama seperti semula.

Kau mendesah di ujung telepon sana.

“Kenapa?” Apa yang membuatmu mendesah seolah berat seperti itu?

“Bukan sebagai kakak, adink…..”

Sejenak aku terhenyak. Lebih tepatnya, aku cukup kaget. Entah apa yang kau katakan selanjutnya saat itu. Yang kudengar, kau menyadarkanku dengan panggilanmu.

“Iya,” jawabku.

“Adink mau gak jadi pacar kakak?”

Blank.

Blank.

Blank.

Kau mengucapkan itu? Bagaimana bisa? Kau, kakakku.

Dan aku….. ‘Kakak, aku telah bersamanya.’ Kata-kata itu hanya terucap dalam hatiku. Aku tidak mau kehilanganmu. Jika aku mengatakan yang sebenarnya saat itu, mungkin aku akan lebih cepat kehilanganmu. Mungkin kau akan segera menghilang dariku. Atau kau akan menerimanya dan tetap menjadi kakakku. Aku menginginkan kemungkinan terakhir. Tapi, aku cukup mengenalmu. Kurasa tentu kau akan mengambil sikap kedua hal yang pertama. Karena itu aku memutuskan untuk menerimamu. Lagi pula kupikir, aku akan bisa menyukaimu seperti dulu. Dan aku akan menyelesaikan hubunganku dengan dia, karena dari awal aku memang tidak ingin bersamanya. Dan akhir-akhir ini kami sudah mencapai klimaksnya. Tinggal penyelesaiannya saja.

Ma’afkan aku karena tak mengatakannya. Aku terus memikirkan hal itu. Aku tidak bisa berbohong. Untuk hal ini sekalipun. Lalu, bagaimana? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya sekarang? Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah kau menjauh? Aku tidak menginginkan hal itu. Aku takut kehilanganmu.

Pada siang harinya, aku memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya. Kau begitu kaget. Aku tahu akan seperti ini. Dan aku menjelaskan semuanya. Aku juga mengatakan bahwa akan menyelesaikannya.

Dan kau mengakhiri pembicaraan kita saat itu dengan mengatakan, “Baiklah, adink selesaikan dulu dengannya. Jika sudah, kasih tau kakak, ya.”

Apa itu artinya kau masih memberiku kesempatan? “Ma’af, Kak!”

“Terimakasih untuk setengah hari ini ya, Dink!”

Aku merasa tidak baik. Aku merasa bukan orang baik. Entah apa yang kau pikirkan tentangku saat itu. Tapi, aku tidak menyesal telah mengatakan yang sebenarnya. Aku menyesal telah membohongimu.

Aku pikir, perlu waktu lama untuk menyelesaikanku dengannya. Lalu aku bersyukur, Karena saat itu keadaan menguntungkan bagiku. Ada hal yang membuatku bisa melepasnya. Agar mereka tak menyalahkanku. Sehingga mereka tahu bahwa dia lah yang salah selama ini. Bahwa aku lah yang diam selama ini. Tapi, yang kuterima selama dengannya malah sebaliknya. Selama dengannya justru aku yang dianggap salah. Dan aku yang disalahkan. Sekarang aku senang. Karena kebenaran telah mereka lihat sendiri. Hingga akhirnya mereka sendiri yang memintaku untuk berhenti bersamanya. Aku tak menyalahkan mereka. Karena mereka memang tidak tahu yang sebenarnya sebelumnya. Mereka justru sangat peduli padaku. Juga sangat perhatian. Aku bersyukur memiliki mereka di sisiku. Terimakasih untuk semuanya.

Kakak, bisakah kau mengerti tentang ini? Bisakah kau memahami posisiku saat itu? Kau memang tidak mengetahuinya, karena itu kau tak bisa memahaminya. Tapi, jika kau mengetahui keadaannya waktu itu, bisakah kau mengerti?

Sekitar satu minggu setelah hari di mana kau utarakan perasaanmu itu, aku memberanikan diri mencoba menemuimu. Meskipun aku merasa, di mana harga diriku saat itu jika aku yang datang menemuimu? Tapi, aku tidak mau ingkar. Aku telah berjanji untuk memberitahukan hal itu padamu setelah menyelesaikannya. Tak kuhiraukan diriku sebagai perempuan saat aku memutuskan untuk menemuimu. Ini pun aku baru berani setelah beberapa hari selesai dengannya. Meskipun aku memberanikan diri, tetap saja ada ragu dan rasa bersalah yang begitu besar di diriku.

Sekarang aku baru menyadari ternyata saat itu kau seberarti itu bagiku. Karena itu aku takut kehilanganmu. ternyata kata-kata itu bukan berarti hanya alasan bagiku. kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku, yang ternyata dari hatiku yang terdalam. bahkan aku sendiri tak menyadarinya sebelum ini. Dan sekarang aku harus menerima bahwa aku telah kehilanganmu. Sampai kapan, aku masih belum bisa menerima hal itu. Tapi, itu kenyataannya. Aku telah kehilanganmu. Dan kau tak mungkin berpaling padaku lagi. Karena kau telah bersama yang lain setelah sekitar dua bulan kita berpisah.

Kita bertemu dan bicara. Kujelaskan tentang posisiku. Tapi, tak habis semua yang kau tahu dan mengerti.

“Aku takut kehilanganmu,” Jawabku saat kau bertanya, kenapa aku berbohong.

Kau juga bertanya, “Kenapa kau bisa menyelesaikan masalahmu itu dalam waktu yang sesingkat ini?”

Aku menjelaskannya. Tapi, tak semua. Karena kurasa terlalu rumit jika kukatakan semuanya. Aku tak mau dianggap menjelekkan mereka, jika kuceritakan semuanya. Karena itu, kuharap kau mengerti. Dan kuingin kau cukup mengerti dengan penjelasan singkatku itu.

“Lalu, bagaimana?” Tanyamu setelah penjelasanku selesai.

“Apa?” Tanyaku. Sungguh, aku tak mengerti pertanyaanmu.

Saat itu kau menatapku dengan serius. “Mau gak, adink dengan kakak lagi setelah satu hari dulu?” Kau menegaskan.

Hah? Aku suka pernyataanmu. Aku senang mendengarnya lagi. Itu artinya kau memang benar-benar ingin bersamaku. Tapi, sadarkah kau telah menggunakan kalimat itu? Yang artinya kau menyesal saat memintaku untuk pertama kalinya waktu itu. Karena aku telah dengan orang lain. Tapi, aku begitu ingin bersamamu. Aku tidak mau kau jauh dariku. Aku tak peduli, kau yang menyesal karena hal itu. Rasa egoisku muncul. Aku ingin bersamamu. Dan aku pun mengiyakan pertanyaanmu itu.

Saat kujalani hariku bersamamu, kenapa terasa begitu hambar? Kau sangat baik dan perhatian padaku. Tapi, aku seolah tak memerlukannya. Kenapa? Saat kurenungi semua. Kuputar balik ingatan. Dan aku menemukan alasannya. Aku sudah sangat nyaman dengan kau yang sebagai kakak di sisiku. Atau rasa marahku yang dulu masih memenjarakanku dalam rasa dendam. Kakak ingat, kakak telah bersama dengan orang lain saat sikapmu membuatku berharap padamu. Bagaimana ini? Aku kembali berada di persimpangan.

Kau bahkan pernah marah padaku karena aku tak menghubungimu dari pagi hingga malam. Dan malamnya kau menegurku. Aku juga hanya satu kali bersedia jalan denganmu. Itupun hanya ke tempat temanmu dan sebentar saja. Selain itu, aku juga sering tak bisa saat kau meminta untuk sekedar makan bareng atau mengunjungimu di gedung itu. Untuk kau tahu, aku sering tak bisa bersamamu bukan sepenuhnya karena aku tak mau menemuimu. Aku tak bisa membagi waktuku denganmu saat itu. Kau tahu, karena saat itu aku harus menyelesaikan target-target kuliahku yang berceceran dan hampir tertinggal. Dan kau mengerti. Kau tahu, saat itu aku juga tak bisa menyebutmu, ‘sayang’. Apa kau menyadari hal itu? Aku tak bisa membalas panggilanmu. Karena saat itu aku memang tidak menyayangi selain sebagai kakak. Yang kusadari sekarang, aku hanya belum bisa menyayangimu saat itu.

Oh… betapa mengertinya dirimu. Seharusnya aku sangat bersyukur bisa bersamamu. Ma’afkan aku. Sebenarnya saat itu aku memang juga menjaga jarak denganmu. Selain karena hal-hal itu, juga karena aku tak ingin disakiti seperti waktu itu lagi. Bukan kau. Tapi, orang itu.

Kau tetap sangat baik padaku. Sangat perhatian. Sangat mengerti. Tapi, mungkin kau belum bisa memahamiku.
Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan yang seperti itu. Ma’af, aku kasihan padamu. Aku tak ingin menyakitimu. Tapi, sepertinya sikapku seperti itu yang telah menyakitimu. Aku menyadarinya. Lalu, perlahan rasa itu kembali muncul. Aku mulai melihatmu bukan sebagai kakak. Aku mulai menyukaimu lagi seperti waktu itu. Setiap saat perasaan itu semakin menyukaimu. Dan setiap itu juga aku semakin merasa bersalah padamu. Aku merasa telah menyakitimu dengan sikapku. Aku merasa menyiakanmu dengan jarang meluangkan waktuu bersamamu. Aku merasa menjadi orang jahat. Aku merasa begitu bersalah. Hingga akhirnya aku merasa tidak berhak bersamamu. Ma’afkan aku. Sungguh. Aku mohon, ma’afkan aku.

Dan aku baru menyadarinya, bahwa keputusanku itulah yang telah menyakitimu. Sebenarnya jika aku masih bertahan denganmu, aku masih bisa memperbaiki sikapku padamu. Iya, kan? Tapi, saat itu aku tergesa mengambil keputusan. Aku tak memikirkan hal lain selain, aku ingin kakak bersama dengan orang yang benar-benar menyayangi kakak dan bisa membuat kakak bahagia. Aku menyayangimu, tapi sebelumnya tak benar-benar menyayangimu. Dan aku tidak bisa membuat kau bahagia.

Yang kusadari sekarang, saat itu aku hanya belum bisa membuatmu bahagia, bukan tidak. Kusadari, aku juga bisa membuatmu bahagia jika tetap bersamamu dan lebih memahami, juga sangat menyayangimu dan memelihara perasaanmu. Tapi, itu sudah terlambat. Karena aku baru menyadarinya setelah kulihat kau bersamanya. Kalian tersenyum bahagia. Dan air mataku menetes melihatmu bersamanya. Harusnya aku yang bersamamu! Bukan dia! Tapi, aku sendiri yang telah membuang kesempatan itu waktu itu. Karena aku terpengaruh pikiran-pikiran buruk tentang bersamamu. Ma’afkan aku.

Akhirnya aku mengatakan hal itu juga. Bahkan hanya lewat telepon. Ma’afkan aku. Kuakui saat itu aku dikuasai oleh pikiran egoisku sejenak. Dan kau menanyakan alasannya. Aku tidak memberitahumu. Karena aku tidak tahu harus mulai menceritakannya dari mana. Aku hanya bisa diam tanpa jawaban. Saat itu, aku tak ingin kau mengenangku sebagai seorang yang baik. Karena kuingin kau tak begitu sedih karena perpisahan itu. dan kuharap kau segera menemukan seseorang itu. Dan keinginanku itu terkabul, bukan? Karena mungkin sekarang kau mencapku sebagai seorang pelarian. Dan kau juga tak perlu waktu lama menemukan seseorang itu. Hanya perlu waktu kurang dari dua bulan kau telah bersamanya. Aku bersyukur saat itu. Harapanku masih sama, semoga kau bahagia bersama pilihanmu yang lain itu.

Sekarang tinggal aku yang masih begitu mengingat semua tentangmu. Bilapun ada yang tertinggal, itu hanya sebagian kecil saja. Sekarang sudah hampir dari satu tahun setelah kita berpisah, dan aku masih mengingatmu. Kau yang sangat baik padaku. Kau yang sabar menghadapiku. Kau yang kecewa karena aku. Tapi, aku tahu, rasanya sangat tidak mungkin kita kembali bersama. Sekarang pun aku sudah bisa membuka hatiku untuk orang lain.

Bisakah kau memahamiku setelah kau mengetahui hal ini? Itu pun kalau kau bisa menemukan tulisan ini. Yang kemungkinannya rasanya sangat kecil kau dapat menemukannya. Lewat kalimat-kalimat ini, aku ingin kau mema’afkan aku. Aku ingin kau tahu bagaimana perseteruan yang terjadi di benakku, betapa dilemanya aku. Dan satu hal keinginanku dulu yang ingin kuperbaiki. Aku tak ingin kau mengingatku sebagai seorang yang tidak baik.

Minggu, 22 April 2012

Aku takut kehilanganmu.

Aku takut kehilanganmu.

Kata-kata itu yang kuucapkan saat itu. Saat kau bertanya kenapa aku berbohong.

Kata-kata itu bukan alasan. Aku tidak tahu. Apakah memang itu yang kurasakan atau hanya itu kata-kata yang terbesit di benakku saat itu.

Ma’afkan aku. Tapi, belakangan aku sadar, bahwa aku memang tidak mau kehilanganmu.

Mungkin sekarang kau bahkan tidak mau mendengar namaku disebut di depanmu. Ya, kurasa kau semarah itu padaku. Aku melepaskanmu tanpa kau tahu sebabnya. Karena memang waktu itu semuanya baik-baik saja. Mungkin sekarang, percuma kau mengetahui hal ini. Karena itu, rasanya lebih baik kau tidak perlu tahu tentang hal ini sampai kapan pun.

Aku mengakui, itu memang salahku. Kesalahan terbesarku.

Kau tahu, betapa tersipunya aku saat pertama kali kau mengajakku bicara lewat pertanyaan sederhanamu. Dan senyum manismu kembali membuatku begitu tersipu. Selalu, saat kau menghadirkannya di depanku. Meskipun bukan kau tujukan untukku saja. Aku sudah menyukaimu sejak saat itu. Lalu, kau pun mulai menghadirkan harapan bagiku. Tepatnya saat kau menyodorkan secarik kertas padaku. Dan aku masih ingat, kau mencari bolpoint saat itu, lalu juga kau ajukan padaku.

“Nomormu!” Kau bilang begitu.

Aku tak mengerti. Mungkin tepatnya berpura tak mengerti. Dan kau memperjelasnya. Aku senang sekali. Dan harapan itu mulai muncul. Saat itu, pertama kalinya kau menyiramkan air pada tanaman bunga mawar merah yang kutanam sendiri. Terimakasih, Ka!

Saat kau menyebutku dengan sebutan ‘adink (adik)’, aku kembali merasakan rasa senang itu. Karena kau yang pertama menyebutku seperti itu.

Ma’afkan aku. Aku menyesal. Aku tak bermaksud menyakitimu.

Dalam selang waktu itu, aku pernah marah padamu. Karena ternyata kau sudah bersamanya. Dan aku baru mengetahuinya setelah cukup lama kita saling menyebut ‘kakak-adink’. Itu pun juga hanya lewat sms. Kita tak pernah saling bertemu di luar gedung RS (tempatmu bekerja) itu. Atau pun hanya berbicara lewat telepon. Ya, itu membuatku menyadarinya, bahwa kau hanya menganggapku sebagai adik. Aku kecewa saat itu. Dan cukup marah. Kenapa kau menghadirkan harapan itu? Kenapa aku begitu lugu sehingga salah mengartikan sikapmu?

Kau tidak tahu itu kan? Kau tidak pernah tahu, bagaimana perjuanganku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau memang hanya menaggapku sebagai adik. Agar aku berhenti berharap padamu. Kau tidak pernah mengetahui ini. Sekarang ini, yang kau ingat tentang aku hanya aku yang melepaskanmu tanpa alasan, bahkan kau mungkin menganggapku mengkhianatimu.

Setelah sekitar satu tahun, aku mulai menikmati kau yang hadir sebagai kakak bagiku. Dan aku sudah ikhlas akan hal itu. Kita masih tetap seperti waktu itu, saling memberitahu dan bertanya kabar lewat sms. Hanya saja frekuensinya jauh berkurang.

Kemudian saat keadaan kembali mengharuskanku berada di gedung RS itu untuk kesekian kalinya. Kita kembali bertemu. Dan itu tidak masalah bagiku. Tidak menyakitkan atau menyenangkan bagiku karena bertemu denganmu kembali. Karena aku sudah bisa menerimamu sebagai kakak bagiku.

Aku tak heran, saat kau menjadi lebih sering menghubungiku dan mulai meneleponku juga. Aku tak berpikir melebihi bahwa kau adalah kakakku. Jadi, aku tak memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Sungguh. Bahkan saat temanku mengatakan padaku bahwa kau menatapku dengan berbeda. Aku tak menghiraukan maksudnya.

“Ya, dia kan kakakku,” Kubilang begitu.

Saat itu aku baru tahu bahwa kau sudah tak bersamanya lagi selama sekitar dua bulan ini. Sekali lagi, ini bukan sesuatu bagiku. Bukan masalah lagi bagiku, kau bersama seseorang atau tidak.

Tak lama kemudian, bagaimana aku menceritakannya?

Kau bertanya padaku, “Apakah aku menyayangimu?”

Kujawab, “Tentu saja. Karena kau adalah kakakku.”

Dan kau mengulangi pertanyaanmu.

Jawabanku pun sama seperti semula.

Kau mendesah di ujung telepon sana.

“Kenapa?” Apa yang membuatmu mendesah seolah berat seperti itu?

“Bukan sebagai kakak, adink…..”

Sejenak aku terhenyak. Lebih tepatnya, aku cukup kaget. Entah apa yang kau katakan selanjutnya saat itu. Yang kudengar, kau menyadarkanku dengan panggilanmu.

“Iya,” jawabku.

“Adink mau gak jadi pacar kakak?”

Blank.

Blank.

Blank.

Kau mengucapkan itu? Bagaimana bisa? Kau, kakakku.

Dan aku….. ‘Kakak, aku telah bersamanya.’ Kata-kata itu hanya terucap dalam hatiku. Aku tidak mau kehilanganmu. Jika aku mengatakan yang sebenarnya saat itu, mungkin aku akan lebih cepat kehilanganmu. Mungkin kau akan segera menghilang dariku. Atau kau akan menerimanya dan tetap menjadi kakakku. Aku menginginkan kemungkinan terakhir. Tapi, aku cukup mengenalmu. Kurasa tentu kau akan mengambil sikap kedua hal yang pertama. Karena itu aku memutuskan untuk menerimamu. Lagi pula kupikir, aku akan bisa menyukaimu seperti dulu. Dan aku akan menyelesaikan hubunganku dengan dia, karena dari awal aku memang tidak ingin bersamanya. Dan akhir-akhir ini kami sudah mencapai klimaksnya. Tinggal penyelesaiannya saja.

Ma’afkan aku karena tak mengatakannya. Aku terus memikirkan hal itu. Aku tidak bisa berbohong. Untuk hal ini sekalipun. Lalu, bagaimana? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya sekarang? Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah kau menjauh? Aku tidak menginginkan hal itu. Aku takut kehilanganmu.

Pada siang harinya, aku memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya. Kau begitu kaget. Aku tahu akan seperti ini. Dan aku menjelaskan semuanya. Aku juga mengatakan bahwa akan menyelesaikannya.

Dan kau mengakhiri pembicaraan kita saat itu dengan mengatakan, “Baiklah, adink selesaikan dulu dengannya. Jika sudah, kasih tau kakak, ya.”

Apa itu artinya kau masih memberiku kesempatan? “Ma’af, Kak!”

“Terimakasih untuk setengah hari ini ya, Dink!”

Aku merasa tidak baik. Aku merasa bukan orang baik. Entah apa yang kau pikirkan tentangku saat itu. Tapi, aku tidak menyesal telah mengatakan yang sebenarnya. Aku menyesal telah membohongimu.

Aku pikir, perlu waktu lama untuk menyelesaikanku dengannya. Lalu aku bersyukur, Karena saat itu keadaan menguntungkan bagiku. Ada hal yang membuatku bisa melepasnya. Agar mereka tak menyalahkanku. Sehingga mereka tahu bahwa dia lah yang salah selama ini. Bahwa aku lah yang diam selama ini. Tapi, yang kuterima selama dengannya malah sebaliknya. Selama dengannya justru aku yang dianggap salah. Dan aku yang disalahkan. Sekarang aku senang. Karena kebenaran telah mereka lihat sendiri. Hingga akhirnya mereka sendiri yang memintaku untuk berhenti bersamanya. Aku tak menyalahkan mereka. Karena mereka memang tidak tahu yang sebenarnya sebelumnya. Mereka justru sangat peduli padaku. Juga sangat perhatian. Aku bersyukur memiliki mereka di sisiku. Terimakasih untuk semuanya.

Kakak, bisakah kau mengerti tentang ini? Bisakah kau memahami posisiku saat itu? Kau memang tidak mengetahuinya, karena itu kau tak bisa memahaminya. Tapi, jika kau mengetahui keadaannya waktu itu, bisakah kau mengerti?

Sekitar satu minggu setelah hari di mana kau utarakan perasaanmu itu, aku memberanikan diri mencoba menemuimu. Meskipun aku merasa, di mana harga diriku saat itu jika aku yang datang menemuimu? Tapi, aku tidak mau ingkar. Aku telah berjanji untuk memberitahukan hal itu padamu setelah menyelesaikannya. Tak kuhiraukan diriku sebagai perempuan saat aku memutuskan untuk menemuimu. Ini pun aku baru berani setelah beberapa hari selesai dengannya. Meskipun aku memberanikan diri, tetap saja ada ragu dan rasa bersalah yang begitu besar di diriku.

Sekarang aku baru menyadari ternyata saat itu kau seberarti itu bagiku. Karena itu aku takut kehilanganmu. ternyata kata-kata itu bukan berarti hanya alasan bagiku. kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku, yang ternyata dari hatiku yang terdalam. bahkan aku sendiri tak menyadarinya sebelum ini. Dan sekarang aku harus menerima bahwa aku telah kehilanganmu. Sampai kapan, aku masih belum bisa menerima hal itu. Tapi, itu kenyataannya. Aku telah kehilanganmu. Dan kau tak mungkin berpaling padaku lagi. Karena kau telah bersama yang lain setelah sekitar dua bulan kita berpisah.

Kita bertemu dan bicara. Kujelaskan tentang posisiku. Tapi, tak habis semua yang kau tahu dan mengerti.

“Aku takut kehilanganmu,” Jawabku saat kau bertanya, kenapa aku berbohong.

Kau juga bertanya, “Kenapa kau bisa menyelesaikan masalahmu itu dalam waktu yang sesingkat ini?”

Aku menjelaskannya. Tapi, tak semua. Karena kurasa terlalu rumit jika kukatakan semuanya. Aku tak mau dianggap menjelekkan mereka, jika kuceritakan semuanya. Karena itu, kuharap kau mengerti. Dan kuingin kau cukup mengerti dengan penjelasan singkatku itu.

“Lalu, bagaimana?” Tanyamu setelah penjelasanku selesai.

“Apa?” Tanyaku. Sungguh, aku tak mengerti pertanyaanmu.

Saat itu kau menatapku dengan serius. “Mau gak, adink dengan kakak lagi setelah satu hari dulu?” Kau menegaskan.

Hah? Aku suka pernyataanmu. Aku senang mendengarnya lagi. Itu artinya kau memang benar-benar ingin bersamaku. Tapi, sadarkah kau telah menggunakan kalimat itu? Yang artinya kau menyesal saat memintaku untuk pertama kalinya waktu itu. Karena aku telah dengan orang lain. Tapi, aku begitu ingin bersamamu. Aku tidak mau kau jauh dariku. Aku tak peduli, kau yang menyesal karena hal itu. Rasa egoisku muncul. Aku ingin bersamamu. Dan aku pun mengiyakan pertanyaanmu itu.

Saat kujalani hariku bersamamu, kenapa terasa begitu hambar? Kau sangat baik dan perhatian padaku. Tapi, aku seolah tak memerlukannya. Kenapa? Saat kurenungi semua. Kuputar balik ingatan. Dan aku menemukan alasannya. Aku sudah sangat nyaman dengan kau yang sebagai kakak di sisiku. Atau rasa marahku yang dulu masih memenjarakanku dalam rasa dendam. Kakak ingat, kakak telah bersama dengan orang lain saat sikapmu membuatku berharap padamu. Bagaimana ini? Aku kembali berada di persimpangan.

Kau bahkan pernah marah padaku karena aku tak menghubungimu dari pagi hingga malam. Dan malamnya kau menegurku. Aku juga hanya satu kali bersedia jalan denganmu. Itupun hanya ke tempat temanmu dan sebentar saja. Selain itu, aku juga sering tak bisa saat kau meminta untuk sekedar makan bareng atau mengunjungimu di gedung itu. Untuk kau tahu, aku sering tak bisa bersamamu bukan sepenuhnya karena aku tak mau menemuimu. Aku tak bisa membagi waktuku denganmu saat itu. Kau tahu, karena saat itu aku harus menyelesaikan target-target kuliahku yang berceceran dan hampir tertinggal. Dan kau mengerti. Kau tahu, saat itu aku juga tak bisa menyebutmu, ‘sayang’. Apa kau menyadari hal itu? Aku tak bisa membalas panggilanmu. Karena saat itu aku memang tidak menyayangi selain sebagai kakak. Yang kusadari sekarang, aku hanya belum bisa menyayangimu saat itu.

Oh… betapa mengertinya dirimu. Seharusnya aku sangat bersyukur bisa bersamamu. Ma’afkan aku. Sebenarnya saat itu aku memang juga menjaga jarak denganmu. Selain karena hal-hal itu, juga karena aku tak ingin disakiti seperti waktu itu lagi. Bukan kau. Tapi, orang itu.

Kau tetap sangat baik padaku. Sangat perhatian. Sangat mengerti. Tapi, mungkin kau belum bisa memahamiku.
Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan yang seperti itu. Ma’af, aku kasihan padamu. Aku tak ingin menyakitimu. Tapi, sepertinya sikapku seperti itu yang telah menyakitimu. Aku menyadarinya. Lalu, perlahan rasa itu kembali muncul. Aku mulai melihatmu bukan sebagai kakak. Aku mulai menyukaimu lagi seperti waktu itu. Setiap saat perasaan itu semakin menyukaimu. Dan setiap itu juga aku semakin merasa bersalah padamu. Aku merasa telah menyakitimu dengan sikapku. Aku merasa menyiakanmu dengan jarang meluangkan waktuu bersamamu. Aku merasa menjadi orang jahat. Aku merasa begitu bersalah. Hingga akhirnya aku merasa tidak berhak bersamamu. Ma’afkan aku. Sungguh. Aku mohon, ma’afkan aku.

Dan aku baru menyadarinya, bahwa keputusanku itulah yang telah menyakitimu. Sebenarnya jika aku masih bertahan denganmu, aku masih bisa memperbaiki sikapku padamu. Iya, kan? Tapi, saat itu aku tergesa mengambil keputusan. Aku tak memikirkan hal lain selain, aku ingin kakak bersama dengan orang yang benar-benar menyayangi kakak dan bisa membuat kakak bahagia. Aku menyayangimu, tapi sebelumnya tak benar-benar menyayangimu. Dan aku tidak bisa membuat kau bahagia.

Yang kusadari sekarang, saat itu aku hanya belum bisa membuatmu bahagia, bukan tidak. Kusadari, aku juga bisa membuatmu bahagia jika tetap bersamamu dan lebih memahami, juga sangat menyayangimu dan memelihara perasaanmu. Tapi, itu sudah terlambat. Karena aku baru menyadarinya setelah kulihat kau bersamanya. Kalian tersenyum bahagia. Dan air mataku menetes melihatmu bersamanya. Harusnya aku yang bersamamu! Bukan dia! Tapi, aku sendiri yang telah membuang kesempatan itu waktu itu. Karena aku terpengaruh pikiran-pikiran buruk tentang bersamamu. Ma’afkan aku.

Akhirnya aku mengatakan hal itu juga. Bahkan hanya lewat telepon. Ma’afkan aku. Kuakui saat itu aku dikuasai oleh pikiran egoisku sejenak. Dan kau menanyakan alasannya. Aku tidak memberitahumu. Karena aku tidak tahu harus mulai menceritakannya dari mana. Aku hanya bisa diam tanpa jawaban. Saat itu, aku tak ingin kau mengenangku sebagai seorang yang baik. Karena kuingin kau tak begitu sedih karena perpisahan itu. dan kuharap kau segera menemukan seseorang itu. Dan keinginanku itu terkabul, bukan? Karena mungkin sekarang kau mencapku sebagai seorang pelarian. Dan kau juga tak perlu waktu lama menemukan seseorang itu. Hanya perlu waktu kurang dari dua bulan kau telah bersamanya. Aku bersyukur saat itu. Harapanku masih sama, semoga kau bahagia bersama pilihanmu yang lain itu.

Sekarang tinggal aku yang masih begitu mengingat semua tentangmu. Bilapun ada yang tertinggal, itu hanya sebagian kecil saja. Sekarang sudah hampir dari satu tahun setelah kita berpisah, dan aku masih mengingatmu. Kau yang sangat baik padaku. Kau yang sabar menghadapiku. Kau yang kecewa karena aku. Tapi, aku tahu, rasanya sangat tidak mungkin kita kembali bersama. Sekarang pun aku sudah bisa membuka hatiku untuk orang lain.

Bisakah kau memahamiku setelah kau mengetahui hal ini? Itu pun kalau kau bisa menemukan tulisan ini. Yang kemungkinannya rasanya sangat kecil kau dapat menemukannya. Lewat kalimat-kalimat ini, aku ingin kau mema’afkan aku. Aku ingin kau tahu bagaimana perseteruan yang terjadi di benakku, betapa dilemanya aku. Dan satu hal keinginanku dulu yang ingin kuperbaiki. Aku tak ingin kau mengingatku sebagai seorang yang tidak baik.