Selasa, 19 Juni 2012

Dia bagiku.....

Aku menyayanginya.
Aku mencintainya.
Aku tidak mau kehilangannya.
Tanpa sadar aku telah menghadirkan diriku yang sesungguhnya di depannya.
Aku tak bisa menjadi baik dengannya.
Aku ingin bersamanya, selalu.
Aku tak bisa jauh darinya.
Aku tak bisa tak memikirkannya.
Aku tak bisa sehari tanpa kabarnya.
Inikah cinta buta?
Entahlah…...
Bersamanya benar-benar penuh warna.
Senang, lucu, sedih, kecewa, sakit.
Kadang aku tampak lemah, rapuh.
Tekanan yang bertubi-tubi memukulku.
Aku kuat saat memikirkannya yang bersamaku.
Mengertilah….
Kadang saat merasa tersakiti olehnya, kuterpikir, benarkah dia tetap menginginkanku?
Saat itu aku ingin pergi jauh.
Ke tempat tak ada orang yang mengenalku.
Ke tempat yang ada seseorang yang bias mengerti aku seutuhnya.
Ke tempat yang ada seseorang yang bias menerima aku yang apa adanya ini.
Kadang aku merasa tidak sanggup dengan ini semua.
Aku ingin bersamanya.
Betapa inginya aku memeluknya.
Bersandar di dadanya
Mendengar suaranya yang menguatkanku.
Merasakan lembut belaiannya.
Tapi aku tidak akan melakukannya sebelum kami benar-benar dihalalkan.
Aku takut pada ALLAH SWT dan aku yakin, akan sangat indah saat waktunya benar.
Apakah ini hanya nafsu?
Aku belum pernah merasakan yang seperti ini.
Aku tetap meyakini inilah cinta.
Tuhan, tegarkan hatiku.
Tak mau sesuatu merenggut dia.
Naluriku berkata tak ingin terulang lagi.
Kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa.
Ini semua salahnya.
Seharusnya aku membencinya.
Bahkan tak ingin hanya mengingat bahwa aku pernah mengenalnya.
Atau mungkin aku sudah membencinya.
Aku ingin dia harus tahu bagaimana keadaanku di sini, bagaimana penantianku, bagaimana kerasnya aku yang mempertahankannya di depan mereka.
Yang terealisasi dengan kalimat-kalimat itu.
Aku tahu hal itu bias membuatnya merasa terpojok.
Tapi, aku sudah benar-benar geram dengannya.
Sebenarnya dia mengerti atau tidak sich?
Ini memang salahku.
Dan aku sadar, ternyata kami sangat berbeda.
Apa dia bisa benar-benar mengerti aku?
Aku bias mengerti dia, tapi keadaanku di sini tak sengaja membuatku mendesaknya. Ma’afkan aku….
Kenapa dia tega menyakitiku sesakit ini (lagi)?
Kepalaku hampir mau pecah saja rasanya
Kadang kupikir, haruskah aku melepaskan ini semua demi ketenanganku kembali?
Aku juga ingin ceria kembali seperti dulu, sebelum mengenalnya.
Dengan pikiran-pikiranku yang logis tentang cinta.
Tapi, aku takut itu justru akan menyakitkan, karena aku harus melepaskannya.
Dan aku takkan sanggup jika hal itu harus terjadi.
Benarkah keputusanku ini, yang memilihnya hingga tetap mempertahankannya dengan cara dan liku yang seperti ini, yang kadang terasa sangat menyakitkan?
Tapi, aku tetap percaya, Tuhan punya rencana misterius yang istimewa dan terbaik untuk setiap hambanya. Begitu juga untuk kami berdua.
Aku masih ingat dan betul-betul sadar, manusia hanya berencana.
Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui telah menuliskan semuanya. Ma’afkan aku….
Ma’afkan aku yang sampai saat ini masih sering meragu.
Kurasa dia sudah benar-benar mengenalku, bahkan dari sisiku yang tak disukainya.
Apakah dia akan meninggalkanku?
Aku tak ingin itu terjadi.
Tapi, jika dia menginginkannya, aku bisa apa?
Sedih? Menangis? Marah? Putus asa?
Ya ALLAH, tolong tegarkan hamba,
Akhirnya ini berakhir.
Rasaku padanya telah hilang.
Setelah sekian aku selalu mengerti dia, selalu mema’afkannya.
Sekian itu pula ia kembali mengulanginya.
Hingga hilang semuanya, tersapu oleh rasa sakit yang telah disuguhkannya padaku. tunjukkan jalan yang terbaik untuk hamba.

Sabtu, 12 Mei 2012

Senyum Fai untuk Ferin?

Riuh tepuk tangan menggema di tempat itu. Sebuah lapangan basket indoor yang letaknya di dekat tempat bimbelnya Ferin. Dan kebetulan sore itu jadwal bimbelnya Ferin dan Manda lagi ditunda ke esok harinya.so, mereka gak nyia-nyiain waktu luang itu deh.

Ferin suka banget sama basket. Pas banget saat Manda ngajak nonton anak-anak basket yang lagi pada latihan. Yup, ini kali pertamanya Ferin nonton langsung permainan basket para atletnya yang bukan teman sekolahnya.

“Seru banget, Sob!” kesan Ferin saat permainan tersebut telah berakhir.

“Pastinya!” manda mengiyakan.

Lalu, tanpa sengaja pandangan Ferin menangkap satu sosok. Sosok seseorang yang akhir-akhir ini cukup mengisi hari-harinya.

Sementara Manda yang lagi girangnya ngecengin plus tebar pesona sama cowok-cowok yang jago basket itu, Ferin justru terdiam bungkam. Dan Ferin merasakan ada sebuah debaran yang tak menentu di dadanya. Bagaimana tidak? Sosok yang tak lain adalah seorang cowok yang tubuhnya atletis banget (tapi, dia bukan atlet lho?), tampan lagi, sedang menatapnya dengan tatapan yang tak isa diartikan oleh Ferin. Sebuah tatapan yang begitu lembut dan menyentuh. Dilengkapi dengan senyum yang paling menawan yang pernah dilihat oleh Ferin.

Sebenarnya Ferin tidak yakin betul, apakah senyum dan tatapan itu memang ditujukan untuk dirinya. Disekelilingnya ada banyak orang, ceweknya cantik-cantik pula. Rasanya begitu naif jika Ferin merasa dirinya lebih cantik daripada cewek-cewk bak model itu. Tapi, Ferin juga tidak bisa menyangkalnya, kalo dia sangat tersanjung jika itu semua memang tertuju untuk dirinya. Karena udah hampir dua bulan ini, cowok kelas XI IPS 2 yang satu sekolah dengannya itu sering ketangkap basah saat sedang memperhatikan Ferin.

Ya, meski Ferin masih ragu. Kalo cowok itu memang suka sama Ferin, kenapa dia gak pernah usaha buat deketin Ferin dan cuma ngasih senyum dan tatapan yang sungguh mempesona itu? Dan kalo tuh cowok gak lagi naksir Fein atau senyum dan tatapan itu bukan untuknya, kenapa juga Manda pernah bilang kalo dia juga sering lihat adik kelasnya itu lagi merhatiin Ferin? Bahkan saat Ferin pulang sendirian pun, tuh cowok juga sering memperhatikannya seperti itu. So, bukannya udah pasti kalo itu semua memang ditujukan untuk Feri? Lebih dari itu, Ferin juga merasa tatapn dan senyuman cowok yang bernama Fai itu memanggil dan mengetuk hatinya. Bahkan ketika Ferin yang tadinya gak mengetahui kehadiran cowok itu didekatnya. Seolah setiap kali perasaan seperti itu hadir merupakan suatu pertanda kalo Fai sedang memperhatikannya.

Tapi, gimana pun juga, Ferin tetep aja gak percaya kalo Fai emang naksir dia selama cowok itu gak ada usaha PDKT-nya sama sekali.

“Ferin!” panggil Manda heran sambil nyikut lengan Ferin. “Ngapain loe nyengir selebar itu? Pake bengong lagi!”

“Hah?” Ferin jadi salah tingkah. “Gue nyengir? Masa sich? Perasaan senyum dikit aja deh,” kilah Ferin.

Manda geleng-geleng kepala sambil tersenyum menggoda Ferin. “Kenapa? Loe lagi dihipnotis ya, non?” Manda mengikuti arah pandangan Ferin. “Oh…. Jadi itu tuch yang bikin loe jadi linglung gini?”

Ferin tersipu salting. “Apaan sich loe!”

Latihan basket udah selesai, semua penonton berdiri dan berbalik ke arah pintu gedung. Termasuk Fai, si Mr. Misterius itu.

Ferin tetap berdiam diri. Ferin begitu terhipnotis oleh senyum lembut dan tatapan sendu Fai yang tak mau lepas dari wajah cowok hitam manis itu. Ferin merasa kalo senyuman itu memang ditujukan untuk dirinya. Sedangkan Manda yang menyadari adegan itu, Cuma bisa ikut-ikutan diam. Niat Manda sich ngasih kesempatan, kali aja di sini Fai mau mulai PDKT-nya ke Ferin. Hingga akhirnya Fai berlalu melewati kedua sahabat itu. Dan mereka saksikan, kesempatan itu terbuang sia-sia.

apa sich maksudnya? batin Ferin. Tampak raut kecewa diwajahnya.

Manda ikutan ciut dengan ngedumel dalam hatinya, apa sich maksud tuh cowok?

Ferin sudah hampir melangkah saat sebuah tepukan lembut mampir di pundaknya. Ferin hampir saja berlonjak karenanya. Dan dia mengira orang yang berdiri di belakangnya itu adalah Fai.

Manda juga merasakan kehadiran orang lain. Keduanya pun berbalik bersamaan.. baru saja Ferin hendak tersenyum semanis-manisnya, tapi saat dilihatnya orang itu adalah Fai, diurungkannyalah niatnya itu.

“Rin!” cowok itu memegang kedua pundak Ferin dan menatapnya dengan penuh penyesalan. “Sorry ya, aku baru datang. Dan sorry lagi, aku lupa bawa uangnya. Kamu gak pa-pa kan?” tanya cowok itu sambil tersenyum berharap Ferin mema'afkannya.

Ferin yang kaget melihat cowok putih berkacamata tebal itu Cuma bisa diam bengong. Ferin gak ngerti. Pasalnya Fein sama sekali gak mengenal cowok itu.

Manda memandangi Ferin sambil menautkan alisnya., menuntut jawaban atas pertanyaannya, siapa cowok ini? sedangkan yang ditanya dengan isyarat itu cuma terdiam keki gak ngerti gimana harus bersikap.

Cowok itu terus bicara dengan riangnya. Dan sumpah gak ada satupun dari kata-kata cowok itu yang dapat dicerna oleh Ferin.

Sementara itu sepasang mata lain sedang memperhatikan kejadian itu dari depan pintu. Sebuah tatapan yang bertanya dan mengobarkan api yang membakar hati si pemiliknya. Lalu dengan menaha gemuruh di dadanya, sosok itu melangkah menjauh.

Sejenak Ferin merasakan ada yang aneh, persis sepeti panggilan yang dirasakannya setiap sebelum melihat senyum dan tatapan Fai.dan saat dipendarkannya pandangannya. Tiba-tiba Ferin merasa cems dan takut. Dan dirasakannya perasaan itu semakin mengecil sama seperti melihat sepeda yang melaju menjauhi.

“Apa artinya?” ucap Ferin tanpa sadar.

Manda yang terlanjur heran dengan kedatangan cowok ini, semakin tambah bingung dengan ucapan Ferin. Apalagi saat disadarinya ia tak mendapatkan jawaban tentang, siapa cowok imut ini?

“Ya udah, deh. Gue duluan, ya. Dagh Ferin….”

Cowok itu pun melangkah menjauh.

“seperti malaikat….” Lirih Ferin.

“Ya, wajahnya imut-lucu gitu, kayak anak kecil yang tanpa dosa, tau gak?” sahut Manda, mengagumi cowok itu.

“Siapa maksud loe?” sambar Ferin seperti baru bangun dari tidur panjangnya.

“Ya cowok yang barusan….”

‘Fai?”

“bukan. Cowok yang barusan ngobrol sama loe. Cowok yang baby face tadi. Masa loe lupa sich

“jangan ngaco, deh! Pulang, yuk!”

Manda mengangkat bahu, mengakhiri rasa penasarannya kali ini.

Keduanya pun melangkah.

Koq Manda jadi ngawur gini, sich? Ferin melirik manda sebentar. Ferin ingat, dia memang merasa didekati cowok imut, tapi tidak mungkin itu nyata. Mungkin aku cuma ngalamin dejavu, pikirnya. Tapi kalo imajinasinya, koq Manda pake ngomong tentang cowok imut, ya? Cowok baby face, kata Manda.

Sementara itu, yang dimaksudnya Ferin seperti malaikat itu adalah perasaan aneh yang tiba-tiba menyentuh hatinya barusan. Mungkinkah itu dia?

*****
“Dompet loe udah ketemu?” tanya Manda sembari menepuk pundak Ferin.

Keduanya sedang melangkah keluar dari kelas bimbel seiring berakhirnya jadwal tes hari ini.

Ferin menggeleng, “Belum.”

Manda bisa mengerti. Manda tidak berkomentar bukan karena dia gak perhatian sama sobatnya itu. Tapi, Manda memang tipe cewek yang gak suka memperpanjang masalah. Kalo dompetnya gak ketemu juga itu artinya rezekinya di dompet itu gak diperpanjang lagi.

“gue ke toilet dulu, ya!’ Pamit Manda. Loe tunggu di sini, ya!


“Ferin!”

Seorang cowok berkulit putih dengan kacamata tebalnya menghampiri Ferin. Dan secara reflek, panggilan cowok itu mencegat langkah Ferin. Dan memang itulah yang diinginkan oleh cowok yang memanggilnya itu.

Cowok babyface itu berhenti di depan Ferin. “Ketemu lagi. Tapi sorry ya, Rin, gue gak bawa uang loe.”

Ferin mengerutkan keningnya. Cowok imut ini lagi. Andai ini nyata….

“Oke deh, Rin. Masih ada yang mesti gue kerjain nich! Dagh….”

Cowok itu berlari menjauh sambil melambaikan tangannya pada Ferin.

“Dagh….” Ferin yang bengong mau aja membalas lambaian cowok babyface itu.

Imut banget nich cowok. Coba dia bener-bener ada buat gue, gumam Ferin.

Ferin masih belum percaya tentang kenyataan adanya cowok baby face yang ngajakin dia ngobrol itu. Soalnya selama ini hidup Ferin tuch datar-datar aja. Belum pernah ada cowok baby face yang mendekatinya seperti ini.

Dia pasti lebih muda dari gue, batin Ferin yang bentar lagi mau UAN.

*****
Perpustakaan. Inilah tempat favorit Ferin. Bahkan gak jarang saat jam kosong pelajaran digunakannya untuk membenamkan diri di dunia buku itu. Lebih-lebih jam saat jam istirahat. , bawaannya mau ke perpus aja. Biasanya sich Ferin pergi sendirian ke perpus.

Ferin lagi asyik nentengin novel butterfly dream’s saat dirasakannya kehadiran seseorang di dekatnya. Sepertinya Ferin kenal dengan aroma ini. Tapi ferin gak peduli. Mungkin aja itu anak yang suka ke perpus juga.

“Sstt….” Seru sebuah suara dari samping kirinya ferin.

Ferin menoleh ke arah suara itu dengan kaget. “Loe?”

“Iya, gue. Ini dompet loe, kan?” Cowok babyface itu menyodorkan sebuah dompet berwarna hijau kepada Ferin.

“Iya, makasih, ya“

“Dompet loe. Tiga hari yang lalu aku nemuin dompet ini di meja itu,” tunjuknya ke arah sebuah meja di sudut ruangan. “Terus gue cek, nyatanya ada nama dan foto loe. Bener, kan?”

Ferin diam, mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Tepatnya sehari sebelum ferin nonton latihan basket kemaren lusa. Ya, ini memang domptnya. Tapi, koq bisa ada sama cowok ini. Bukannya cowok ini Cuma ada diimajinasinya, ya?

Cowok itu tersenyum malu. “Sebenarnya gue udah lama merhatiin loe,” paparnya perlahan.

“Apa?” Ferin menajamkan pendengarannya, rasanya gak percaya dengan yang baru saj didengarnya. Cowok babyface ini udah lama merhatiin Ferin? Apa itu artinya, sekarang cowok ini mulai PDKT ke Ferin? Senengnya kalo dugaannya ini benar.

Tiba-tiba lagi-lagi Ferin merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada yang sedang memperhatikannya. Ferin nengok kanan –kiri, depan-belakang, dan ke sekelilingnya. Tapi gak ada seseorang yang mencurigakan. Tapi, perasaan itu semakin kuat saja dirasakannya.

Sementara itu seseorang baru saja menarik tubuhnya ke belakang dinding hingga tak terlihat oleh orang yang sedang diperhatikannya.

“Ferin, loe kenapa?” Tanya cowok itu, ia heran melihat tingkah Ferin yang celingak-celinguk gak jelas.

“Hah? Apa? Gue gak kenapa-kenapa, koq. Terusin lagi cerita loe!”

“Aku….”

“Oh ya, siapa nama loe?”

“Iya ya, kita kan belum kenalan.” Cowok itu segera mengulurkan tangannya ke depan ferin. “Namaku Rendy”

“Nama loe keren juga. Loe anak baru, ya? Kelas 3 apa?”

“Iya, aku anak baru. Kelas X-1.”

“Kelas X?”

“ Iya, emangnya kenapa?”

“Gak. Pantesan loe imut banget. Jadi loe beneran nyata, ya?”

"Ferin!” Tiba-tiba Manda udah nongol di depan Ferin. “Bu Dina udah mau masuk kelas. Yuk!” Manda langsung menarik tangan Ferin setelah sebelumnya melirik ke arah Rendy sebentar.

Ferin pun langsung mengikuti Manda yang dipimpin oleh tarikan itu dan tak sempat mengucapkan kata pamit pada cowok imut yang bernama Rendy itu. Manda pun terus menarik Ferin hingga mereka tiba di ke;las.

“Rin, loe bilang gak kenal sama si babyface itu. Nyatanya loe malah berduaan sama dia, di perpus lagi, tempat yang cocok banget buat berduaan, sepiii….” umbar Manda.

“Loe ngomong apan sich?”

“Nona polos, yang gue maksud ngapain loe sam cowok imut itu di perpus?”

“Namanya Rendy, anak kelas X-1….”

“Kelas X? gokil loe, punya gebetan koq adek kelas mulu isch. Kan cowok seangkatan kita yang keren-keren masih banyak.”

“Ralat, ya! Siapa juga yang ngegebet adek kelas. Ngobrolnya aja baru sekali ini.”

“Kemaren waktu nonton basket juga ngobrol, kan? Kemaren Fai, anak kelas XI IPS 2. Sekarang si babyface, anak kelas X-1.”

“Rendy Cuma mau ngembaliin dompet gue yang kemaren hilang. Dan Fai___gue Cuma penasaran aja sama dia. Gak lebih.”

“Yakin loe?”

“Loe gak percaya ama gue?”

“Ya udah, kita belajar dulu aja, ya.”

“Keduanya pun mengakhiri obrolannya seiring tibanya Bu Dina di kelas mereka.”

*****
“Ferin!” Panggil sebuah suara tepat saat Ferin menuruni anak tangga saat bubaran sekolah.

Ferin menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Rendi sedang berlari-lari kecil ke untuk menghampirinya.

“Loe pulang sendirian? Gue anterin, ya?!”

Ferin mengerutkan keningnya. Koq nich cowok imut ngajakin dia pulang bareng? Oh, jadi bener, cowok ini emang mau PDKT sama dia.

“Diam berarti, ya. Yuk!” Tanpa persetujuan Ferin, Rendy sudah memegang tangannya demi mengajaknya melangkah.

Ferin Cuma diam sambil tersipu malu dan pipinya pun utelah bersemu merah. Ferin pun mengiluti langkah Rendy. Dan Rendy udah sumringah banget, cengar-cengir ke semua orang yang berpapasan dengannya.

Sshh…. Tiba-tiba Ferin mendengar panggilan itu lagi. Tepatnya perasaanya mengatakan ada sesuatu. Tapi, Ferin gak tau apa itu. Apakah sesuatu yang menyenangkan atau tidak? Yang Ferin tau, hanyalah perasaannya yang seperti itu seolah sebagai suatu pertanda. Tapi, apa?

“Sayang!” Ujar sebuah suara cewek yang langsung melepaskan genggaman tangan Rendy dan menggandengnya. “Koq gak nungguin aku, sich? Kita kan udah janjian mau pulang bareng, trus nge-date. Yuk!”

Rendy melongo kaget. Dan Ferin ikutan diam doang.

Rendy ngeliatin cewek itu dengan jengah dan berusaha melepaskan gandengan cewek yang gak dikenalnya itu.

“Kita pulang sekarang, kan sayang?” Cewek itu semakin mesra bergelayut di lengan Rendy.

Cewek itu semakin menjadi-jadi saja dengan sikap manjanya itu. Sedangkan Rendy tak henti-hentinya berusaha melepaskan diri dari cewek itu.

Ferin mulai ngerti. Ini cewek pasti pacarnya Rendy. Tapi, Rendy kan lagi PDKT ke dia. Kayaknya gak mungkin cowok seimut Rendy seorang playboy. Tapi, siapa cewek ini?

Ferin pun mulai melangkah.

“Ferin, tungguin aku!” Teriak Rendy. Aku bisa jelasin semua ini. Rendy berusaha menghentikan langkah Ferin.

“Rendy, mending loe selesaikan masalah loe dulu. Kita bisa pulang bareng lain kali.” Ferin tersenyum. Lalu melangkah lebih banyak lagi.

Sepeninggal Ferin, cewek yang menggandeng tangan Rendy itupun langsung melepaskan tangannya. Dan berlalu.

“Hei, tunggu!” Teriak Rendy. Dia mengejar cewk itu. “Siapa loe? Apa mau loe?”

“Cuma mau nyampein pesan. Jangan pernah deketin Ferin lagi! Atau loe bakalan nerima akibatnya!” Cewek itu melangkah meninggalkan Rendy.

“Loe bicara atas nama siapa?” Teriak Rendy.

Rendy berdiri terpaku. Siapa yang menyuruh cewek itu? Apakah orang itu juga menyukai Ferin? Jadi dia punya saingan, ya? Tak apa. Ferin memang cewek yang pantas disukai oleh banyak cowok. Dan Rendy gak akan menyerah hanya karena ini. Dia yakin, Ferin cewek baik-baik yang bisa bedain mana orang yang baik.

Ferin terus melangkah keluar dari sekolah dengan hati bertanya-tanya. Siapa cewek itu dan apa maunya? Rendy tampaknya bukan seornga cowok yang suka mainin perasaan cewek koq. Tampaknya Rendy cowok yang tulus.

Ferin berhenti di depan gerbang sekolah, menunggu angkutan kota. Rupanya Manda sudah dijemput. So, terpkasa, ferin pulang sendirian.

Ferin tengok kanan-kiri. Kali aja ada salah satu temannya yang juga lagi nunggu angkutan kota. Tapi, ternyata gak ada, semuanya anak kelas X.

Fuih….

oo… lihat arah pukul 9! Dengan ragu bercampur malu, ferin menoleh ke arah itu. Hmm… gantengnya. Keren banget.

Di situ Fai sedang berdiri seorang diri. Dan lagi-lagi Fai tersenyum manis ke arah Ferin. Dengan tatapan seperti orang yang lagi falling in love gitu. Ferin luluh. Dan tanpa sadar, Ferin pun menirukan tatapan dan senyum seperti orang yang lagi kasmaran itu.

Fai, cowok yang ditemukan Ferin sedang menatap dirinya dengan tatapan aneh yang lembut, tatapan yang membuat Ferin begitu penasaran. Dengan seulas senyum yang begitu manis dan menawan.

surat bersampul merah jambu

Dalam beberapa detik saja sosoknya telah menghilang dari pandangan. Mula-mula ia beranjak mundur. Lalu dengan samar saja hingga tak tampak sedikitpun lagi.

Adista masih ditemani uraian air matanya. Matanya sembab. Entah sudah berapa lama tangisnya tak jua berhenti. Hatinya terasa begitu pedih atas kenyataan ini. Adista menatap nanar pada jalanan malam yang masih didera hujan lebat itu.

Hati adista semakin tersa pedih, perih sekali. Rasanya segala kesedihan tengah bersanding dengannya saat ini. Tak akan pernah lagi dijumpainya sosok yang begitu disayanginya itu.

Adista telah merasakan begitu sedihnya kehilangan, terlebih lagi dia tidak akan bertemu dengan sosok itu lagi. Ini telah melemaskan seluruh otot di persendiannya. Hingga terciptalah Adista yang terkulai duduk sambil terus menangis menyesali semuanya.
Air mata Adista pun telah menyatu dengan derasnya rintik hujan. Tak dipedulikannya selimut malam yang begitu dingin dan gelap yang tengah memeluknya. Diacuhkannya saja tubuhnya yang telah menggigil dengan begitu hebatnya. Sesal yang terlambat yang dimilikinya kini takkan bisa mengembalikannya semua yang telah terjadi. Masih terngiang semua yang telah terjadi di heri terakhir sosok itu.

*****

“Dis, hari ini jangan sampai lupa lagi, ya! Surat itu harus nyampe ke tangan Davi biar di bisa baca sendiri,” pesan Rieka dengan semangatnya.

Adista tersenyum hambar.

Rieka adalah teman sekelas Adista. Mereka bukan teman akrab. Hanya saja akhir-akhir ini Rieka jadi suka deketin Adista, sekedar nanyain tentang Davi. Dan kemaren akhirnya Rieka ngaku juga kalo dia naksir Davi. Rieka cantik. Dia seorang model yang sering mengikuti dan memenangkan berbagai lomba di bidang modelling.

Dan Davi__ dia seseorang yang sudah dua bulan ini jadi temen dekatnya Adista. Memang tak begitu dekat. Hanyan teman ngobrol di waktu luang. Tadinya Davi tak begitu dikenal di sekolahnya ini. Tapi sekarang Davi sudah cukup pouler. Tepatnya setelah Davi bergabung dengan klub volly di SMA ini. Bahkan ada banyak gadis yang nembak Davi secara terang-terangan. Dan entah berapa banyak yang naksir Davi dalam diam, lewat tatapannya yang terus mengikuti sosok seorang Davi. Davi seorang cowok yang cute dan yang terpenting dia easy going dan friendly banget.

Sedangkan Adista bukan siapa-siapa. Adista hanya seorang gadis biasa yang mencoba menyayangi sseorang dengan tulus. Davi, dialah orang itu. Cowok yang disukainya secara diam-diam sejak kelas 1 hingga kelas 2 ini. Hanya dua sobat, Tika dan Nia yang mengetahui kisah kasih terpendamnya ini. Dan atas usaha mereka berdua jualah Adista dan Davi bisa menjadi teman ngobrol yang cukup dekat.

Bagi Adista, Davi adalah cowok yang manis dan menyenangkan, stylenya keren, sporty. Sedangkan Adista__ dia tidak secantik gadis-gadis yang sudah ditolak Davi. Apalagi jika dibandingkan dengan Rieka, Adista jadi tambah minder.

Sebenarnya sudah dari kemaren Adista dapat titipan berupa sebuah surat bersampul merah jambu dari Rieka dan ditujukan untuk Davi. Hati Adista semakin merintih. Keinginannya untuk hanya memendam perasaannya pun semakin kuat saja.

“Bukannya lupa, tapi kemaren gue emang gak ketemau sama orangnya.”

Rieka manggut-manggut percaya.

“Dis, cepetan!” Teriak Nia dari depan pintu kelas.

Rieka pasti tak menduga bahwa Adista juga mempunyai rasa pada Davi, meskipun hanya dipendamnya.

Jam pulang sekolah telah berlalu sepuluh menit. Dan selama itu jua telah dilakoninya dengan mendengarkan ocehan Rieka mengenai Davi. Dan dua sobatnya itu menunggu dengan setia di luar kelas. Mereka tak mungkin sabar mendengar kan Rieka yang terkenal dengan kebanggaannya akan dirinya yang sebagai seorang model itu.

"Ya udah, Rie, gue pulang duluan, ya. Soal ini pasti gue usahain koq.” Adista mengibas-ngibaskan surat untuk Davi itu.

“Pokoknya harus dibaca Davi hari ini, ya Dis. Gue udah gak sabar mau tau reaksi Davi saat dia tau kalo gue suka dia.”

Adista menganggukkan kepalanya, lalu beranjak menghampirikedua sobatnya itu.

Ketiganya pun melangkah meninggalkan kelas XI IPA 2. Langkah mereka pun menggema di koridor sekolah yang sudah sunyi itu. Dinding-dinding pun hanya diam membisu.

Namun, kesunyian ini tak sama dengan perasaan Adista. Saat ini perasaannya telah dihuni oleh suatu keramaian, yaitu kegelisahan yang teramat besar.

“Dis, gue duluan!” Rieka meleset berlari di samping mereka.


"Sialan tuch cewek!” maki Nia tanpa didengar oleh Rieka.

Tika yang menyadari perasaan Adista saat ini langsung menyenggol lengan Nia sebagai isyarat agar Nia juga memperhatikan Adista yang sedari tadi jalannya menunduk saja.
Nia pun menurut.

Ketiga sobat ini pun terus melangkah menuju gerbang sekolah.

“Dis!" Panggil Tika. “Adista!”

“Hah?” Adista pun tersadar dari lamunannya. ‘Ada apa ?”

"Mending surat itu gak usah loe kasih ke Davi deh, daripada loe tertekan kayak gini,” usul Nia.

Tika sependapat dengan Nia. Tentunya mereka gak mau melihat sobatnya yang satu ini terus bermuram durjana.

“Gue bakalan lebih tertekan lagi kalo gak nepatin janji gue untuk nyampein surat ini ke Davi,” ucap Adista pasrah.

Tika dan Nia saling pandang dengan prihatin.

“Janji ? janji apan sih ?"

Ketiga gadis ini langsung menoleh kaget ke arah suara yang tiba-tiba muncul di antara mereka itu. Rasanya suara itu tak asing di telinga mereka.

"Ngagetin orang melulu loe ! gimana kalo kami jantungan? Hah?” Nia memukul-mukul lengan Davi.

Sedangkan Davi mencoba menghindar sebisa mungkin sambil cengar-cengir. Nich anak emang suka banget usil sama Nia.

Tika dan Adista tertawa mrlihat tingkah laku kedua orang yang lagi kejar-kejaran kayak anjing dan kucing itu. Nia anjingnya dan Davi kucingnya. Karena Davi lah yang sedang dikejar oleh Nia.

Saat melihat Davi, sejenak Adista melupakan keresahan yang tengah menerpanya, yaitu antara menyampaikan surat itu atau tidak.

"Hai, Dis!” sapa Davi saat sudah berhenti main anjing kucing dengan Nia.

“Hai!” Balas Adista sambil tersenyum. Pipi Adista pun bersemu merah.

Tanpa sepengetahuan Davi dan Adista, Nia ngasih isyarat pada Tika melalui matanya. Tika pun langsung mengerti arti tatapan itu.

“Dis, kami pulang duluan, ya. Harus buru-buru nich,” pamit Tika.

“Lho? Kan kita emang mau pulang,” tukas Adista. Adista mengerti maksud kedua sobatnya itu. Mereka pasti mau ninggalin dia berduan sama Davi.

“Ya udah, pergi sono! Adista biar gue yang nganterin pulang. Gue gak mungkin tega ngelihat Adista pulang sendirian,” kata Davi sambil melirik Adista sekilas dan tersenyum.

Adista semakin tersipu. Wajahnya pun sudah semerah buah tomat. Ternyata Davi juga mengerti maksud Nia dan Tika.

“Narsis loe! Awas loe kalo sampe terjadi apa-apa sama sobat gue!” Tunjuk Nia pada Davi.

“Daagh, Dis!”

Nia dan Tika pun mempercepat langkah mereka mendahului Adista dan Davi.

Sepeninggal kedua cewek itu, Adista dan Davi jadi sama-sama salah tingkah. Sepasang anak manusia ini pun hanya terus melangkah tanpa berbincang. Bingung plus malu. Enaknya ngomongin apaan, ya?

Setibanya di depan gerbang sekolah barulah Davi membuka mulut. “Tunggu di sini bentar ya, Dis. Gue ngambil motor dulu.”
Davi sudah ngambil sikap kuda-kuda untuk berlari, tapi langsung tertahan.

“Davi….” Adista menggantung kalimatnya. Rasanya tiba-tiba lidahnya tersa kelu.
Sebenarnya Adista masih bingung mengenai surat itu.

“Ya?”

“Rumah gue kan deket. Jalan kaki bentar juga udah nyampe.”

“Ya udah gue temenin jalan kaki dech.”

Adista mengangguk sambil tersenyum.

Keduanya pun terus melangkah menuju rumah Adista. Masih dalam diam. Mereka melangkah dengan isi benaknya masing-masing. Meletakkan kembali potongan-potongan memori di tempatnya yang benar.

Adista masih bimbang. Tapi Adista tahu, bagaimanpun juga di tetap harus mengambil tindakan itu. Antara janji yang merupakan sebuah amanat perasaan yang dengan setianya selalu menemaninya. Adista harus memilih amanat itu. Toh akhirnya yang mengambil keputusan juga bukan dirinya. Davi lah yang akan memutuskan untuk nerima Rieka atau tidak. Meski akhirnya Davi memilih Adista, mungkin itu yang terbaik.

Adista menghentikan langkahnya. Dan merogoh sesuatu di dalam tasnya. Mengambil surat bersampul merah jambu itu. Tanpa membaca isinya pun Adista sudah dapat menebak isinya. Tentunya tentang perasaan Rieka yang mau jadi ceweknya Davi.

Dengan heran, Davi pun ikut menghentikan langkahnya. Davi memperhatikan Adista yang sedang mengaduk-aduk isi tasnya itu dengan alis terpaut.

“Dis, loe ngapain?”

“Ada yang gue cari nich,” jawab Adista tanpa menoleh Davi.

“Mau gue bantuin?”

“Gak__gak usah. Nich udah ketemu,” Adista memamerkan surat bersampul merah jambu itu pada Davi.

Sejenak Davi terhenyak. Namun, dia segera tersenyum. Davi tak menyangka Adista akan seberani ini. Davi berpikir, ngapain Adista mamerin surat itu padanya kalo maksudnya bukan ‘itu’. Adista pasti pengen ngutarain perasaannya pada dirinya lewat surat itu. Sebenarnya Davi sudah menduga kalo Adista juga menyukainya. Tapi, kali ini rasanya Davi bener-bener dapat surprise.

“Apaan tuch?”

“Surat cinta.”

Davi tercenung, dugaannya benar. ”Untuk siapa?”

“Buat loe.” Adista menyodorkan surat itu ke depan Davi.

“Gue?” Davi menunjuk dirinya sendiri denga tergagap.

Adista mengaggukkan kepalanya dan berusaha setenang mungkin dengan tersenyum sebisanya.

Davi menerima surat itu, lalu mencoba untuk membukanya. “Gue baca di sini gak pa-pa kan?”

“Ya.” rasanya koq sakit, ya? “Tapi sorry gue baru bisa ngasihnya sekarang, sebenarnya dia udah ngasihnya dari kemaren, tapi kemaren kita gak ada ketemu kan?”
Seketika gerakan tangan Davi terhenti. Dia? Dia siapa? Bukannya surat ini dari Adista sendiri? Davi membatin.

“Koq berhenti, sih? Baca donk. Gue kan juga pengen tau apa isinya.”

Davi membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya.

Betapa terkejutnya Davi, saat membaca nama di akhir kata-kata pernyataan cinta.
“Rieka?” Kenapa bukan Adista? Davi sangat kecewa.

“Aaaaaaa….” Tiba-tiba Davi berteriak. “Surat ini dari Rieka?” Davi mengibaskan surat itu di udara di depan Adista.

Davi…. Sejenak Adista terhenyak melihat tingkah Davi. Adista pun jadi sedikit takut, belum pernah dia melihat Davi yang seberang itu.

Belum lagi hilang keterkejutan Adista, Davi sudah melempar surat itu ke tengah jalan. Lalu memegang kedua pundak Adista. Mereka saling bertatapan. Ada sorot kemarahan di mata Davi.

“Adista, kenapa kamu setega ini sama aku?” Kata Davi ber-aku-kamu pada Adista. Rupanya Davi benar-benar kecewa dan marah.

Adista tidak tahu harus bagaimana. Kenapa Davi bisa semarah ini? Apa ada yang salh lalu di mana letak salahnya.

“Dista, loe tau, gue Cuma sa….”

“Davi!” Adista mengangkat kepalanya. “Apa yang terjadi denganmu? Apa kepopuleran yang kamu dapat sekarang ini bikin kamu gak bisa menghargai perasaan cewek? Rasa kasih sayang itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, Davi. Bahkan dirinya yang sedang mengalaminya pun tidak bisa memutuskan siapa yang akan disayanginya.”

"Tapi, Dis, aku….”

Belum selesai davi mengutarakan maksudnya, Adista sudah melepaskan diri darinya. Adista berlari ke tengah jalan, menghampiri surat itu dan memungutnya.

“Davi! Gue gak nyangka bisa-bisanya loe membuang surat yang berisi perasaan cewek ke loe ini. “

"Dista, kamu boleh ngatain aku apa aja setelah kamu dengerin penjelasanku ini. Tadinya aku pikir surat itu dari kamu. Dan kamu lihat sendiri kan, betapa bahagianya aku saat nerima dan membuka surat itu. Tapi setelah aku tau surat itu bukan darimu, aku kecewa, Dis. Aku kecewa. Apa ini artinya kamu gak ngangap aku istimewa seperti istimewanya kamu di mataku dan dihatiku?"

Adista memutar kembali memorinya. Ya, wajah Davi memang tampak sangat bahagia saat nerima surat itu. Dan Davi menganggapnya istimewa….

“Dis, sekarang kamu udah tau maksudku kan? Meskipun kamu udah tau, tapi aku akn tetap bilang. Dista, aku….”

Dan belum lagi Davi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba mendekatlah sebuah mobil jip dengan kecepatan tinggi ke arah Adista.

Sementara itu Adista telah begitu terpana dengan semua ucapan Davi, dia tersenyum tak percaya dan bahagia. Tanpa menyadari di mana tempatnya berdiri sekarang. Dan tanpa mendengar deru mobil ynag sedang melaju ke arahnya itu.

“Dista awas!” Davi berlari ke arah Adista.

Denga heran Adsita melihat tingkah Davi. Lalu saat menyadari keadaan dirinya dan mobil yang sedang melaju itu, Adista begitu ketakutan hingga kakinya pun tak mampu bergerak. Tak lagi dapat dilihatnya mobil itu dengan seutuhnya.

“Brukk!”


Gelap.

Lalu entah setelah berapa lama….

Aw.adista merasakan kepalanya begitu berat. Dengan amat perlahan, Adista berusaha membuka matanya. Pertama-tam yang dapat dilihatnya hanyalah sebuah kabut besar. Tak lama kemudian, Adista sudah kembali bisa melihat semuanya. Dan dirasakannya kepalanya masih sangat pusing.

Kemudian Adista melihat Davi yang telah terkapar payang di tengah jalan, tepat di tempatnya berdiri sebelumnya dan hanya dua meter dari tempatnya tergeletak sekarang.

Dengan kepala yang dirasakannya masih begitu berat, dipaksakan Adista untuk berdiri. Dengan terhuyung-huyung Adista berusaha melangkah menghampiri Davi. Lalu, dipercepatnya langkahnya.

"Davi!” Panggil Adista saat sudah berada di samping Davi.

"Davi!" Adista pun langsung mendekap davi di pangkuannya dan menggemggam erat tangan tangan Davi seoalh tak akan pernah dilepaskannya tangan itu.

Davi adista hampir tak sanggup melihat keadaan Davi sekarang. Cairan merah pekat hampir membasahi seluruh tubuh Davi. Dan Davi ynag telah terkapar payah, hanya merintih menahan rasa sakitnya.

Dengan mata yang setengah terbuka, Davi menatap tulus pada Adista dan masih menghadirkan senyum terindah yang dimilikinya. Dadanya pun naik turun dengan lebih cepat.

“Davi, kamu gak pa-pa. bertahanlah! Kamu pasti bisa!” Ucap Adista. Adista takut kehilangan Davi. “Tolong! Tolong! Tolong!” Teriaknya.

Davi tersenyum. “Dista, tersenyumlah untukku sebagai pertanda kita sehati,” ucapnya dengan terbata-bata.

Adista tersenyum dalam derai matanya yang berkaca-kaca.

Kemudian Davi berusaha menggerakkan tangannay untuk menyentuh wajah Adista.
“Tersenyumlah….”

Lalu, Davi menutup matanya dengan perlahan. Dan di pun terkulai lemah.

"Davi!” Panggil Adista pelan.

"Davi!” Adista mengulangnya dengan lebih pelan.

“Davi!” Adista mulai cemas. Dan dia pun mulai menangis.

“Davi!” Adista mengguncang tubuh Davi.

Saat disadarinya Davi telah tiada, Adista berhenti mengguncang tubuh Davi. Dan berhenti menangis. Lalu Adista tersenyum. Sebuah senyum yang ia usahakan semanis mungkin. Senyum yang akna selalu disukai Davi. Dan senyum yang akan selalu membuat Davi merindukan dirinya.

“Davi, aku sudah tersenyum. Davi, lihatlah. Senyum ini hanya untukmu.”

Tanpa disadari oleh Adista, orang-orang telah berdatangan sedari tadi, tepat saat Davi menghembuskan nafas terakhirnya. Karena itu mereka hanya diam menuggu Adista selesai biara.

“Davi….”

*****

Adista tak menangisi kepergian davi yang begitu cepat. Bagaimanapun juaga kematian adalah sebuah janji bagi setiap makhluk bernyawa. Adista hanya menangisi kelengahanny selama ini. Kelengahannya yang taka dapat menyadari perasaan Davi yang sama dengan perasaannya. Dan kelengahannya yang telah memarahi davi di saaat detik-detik terakhirnya.

“Davi, ma’afkan aku. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

Pernikahan

Tok! Tok! Tok!

Beberapa menit kemudian, pintu dibuka dari dalam.

Sosok itu muncul di hadapanku. Menatap wajahnya menghadirkan ketenangan di batinku. Di mataku, dia sangat istimewa. Meski badannya tidak seatletis Diandra. Dan yang paling kusuka darinya adalah tatapan mata sendunya yang memancarkan kehangatan. Dan aku selalu merasa terlindungi saat bersamanya. Dan tentunya aku juga selalu merasa nyaman saat di dekatnya.

“Aku mau nginep di sini!” Aku langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Dia hanya diam sambil menutup pintu.

Dia memang agak cuek dan dingin. Tapi ketika bersamaku, dia lebih sering bersikap sangat bersahabat.

Aku duduk di sofa ruang keluarga. Dengan muka ditekuk, aku meraih remote TV. Lalu menekan tombol On-nya.

Sementara itu, dia melangkah menuju dapur. entah apa yang mau dilakukannya. Mungkin dia sedang masak, saat aku datang.

“Let’s dance together, get on the dance floor…,” ringtone call alert ponselku berbunyi.

Aku meraih ponselku di dalam tasku. “Diandra,” gumamku.

Plak!

Kulempar ponselku ke sofa di samping kananku.

“Hallo!”

Aku menengok ke samping kananku. Sejak kapan Arya dis itu? Pakai pegang ponselku pula.

“Diandra, aku Arya.”

Kyaaakkk.. arya menerima panggilan Diandra.

"Mati’in!” ucapku dengan isyarat. Aku mencoba merebut ponselku, tapi Arya terus mengelak dariku.

“Arya, mati’in donk,” rengekku tetap dengan isyarat. Dan aku terus mencoba merebutnya.

Tapi Arya malah tambah asyik ngobrol dengan Diandra sambil terus mengelak dariku.

“Iiih…. Arya nyebelin!“ Jurus pamungkasku.

Capek mengejar Arya, aku kembali duduk di sofa.

“Iya, kalo Henny udah selesai mandi, pesan kamu pasti kusampaikan.” Arya menutup perbincangannya ditelepon. Lalu dia duduk di sampingku dan meletakkan ponselku di atas meja.

Dengan sok jutek, aku tak mengalihkan pandangnku dari TV.

“Mau minum?” Arya menyodorkan segelas jus jeruk padaku. Minuman favoritku. Mana bisa aku nerusain pura-pura juteknya.

Segera kuambil gelas itu dari tangannya. “Jadi barusan kamu bikin ini? Koq cepet banget?”

“Aku tau kamu mau ke sini.” Jawabnya singkat.

Hmm.. aku meminum jus jeruk buatan Arya. Enak!

“Diandra bilang, dia mau minta ma’af sama kamu.”

“Aku benci Diandra. Pembohong! Hari ini Diandra janji mau nemenin aku ke toko buku jam empat. Dan Diandra belum datang juga sampe jam enam. Kucoba telpon, ponselnya malah gak diangkat-angkat.”

“Apa kamu tau alasannya gak bisa datang?”

“Bodo!”

"Diandra harus nganterin dan nemenin kak Shinta yang mau melahirkan di rumah sakit.”

Aku menatap kaget pada Arya. Kak Shinta mau melahirkan? Kak Shinta itu kakaknya cowokku, Diandra. Jadi itu alasan Diandra. Tapi kenapa dia tak menghubungiku terlebih dulu untuk membatalkan janjinya? Atau aku juga bisa mendampinginya untuk menemani kak Shinta.

“Diandra gak sempat nelpon kamu karena saat itu dia sangat panik. Setelah kak Shinta melahirkan, dia baru ingat buat hubungin kamu.” Arya seolah mendengar pertanyaan yang hanya kuucapkan dalam hati itu.

Arya, apa dia benar-benar mengetahui segalanya tentangku? Apa itu artinya dia sangat memahamiku? Bagaimana dengan perasaanku padanya? Apakah dia juga dapat merasakannya? Atau itu hanya tebakannya?

Arya adalah kakak sepupuku. Dia kuliah di fakultas hukum di sebuah universitas swasta di Jakarta. Kuliahnya sudah semester akhir, tinggal nunggu hari dimana skripsinya akan diuji. Selain itu dia juga udah kerja di salah satu kantor advokat terkenal di Jakarta. Karena itu, dia sudah bisa mengontrak rumah, membiayai kuliahnya sendiri, serta mebiayai kehidupannya sehari-hari, meskipun masih belum bisa mengirimi orang tuanya. Orang tuanya kan tinggal di Bandung.

Meskipun kami sangat dekat dan saling mengetahui pribadi kami masing-masing, tetap saja aku tak bisa menebak perasaannya terhadapku.

Aku merasa sangat terlindungi ketika bersamanya. Dan sudah sejak sangat lama aku menyukainya, mengaguminya,, menyayanginya, dan segalanya. Dan aku gak mau jauh darinya apalagi sampai kehilangannya.

Dan Diandra adalah cowok yang sangat baik, perhatian, romantis, selalu tepat janiji, kecuali janji yang kemaren. Dan hampir tidak ada celah yang bisa kujadikan alasan untuk menolaknya. Aku masih ingat, kami baru jadian setelah umur PDKT-nya dua tahun dua bulan, setelah kesekian kalinya Diandra memintaku untuk menjadi ceweknya.

“Diandra sangat menyayangimu, Arya membelai rambutku.”

Kutatap matanya. Hanya ketenangan yang kutemukan di sana. Dan aku selalu sedih setiap kali kuingat aku tak bisa menemukan jawaban itu dimatanya.

Arya, sebenarnya kamulah cowok yang sangat kusayangi. Sering terngiang di sanubariku, bahwa Arya juga sangat menyayangiku. Tapi, dari kata-katanya tadi, mungkin kah kata hatiku itu salah?

“Aku tahu,” kutundukkan kepalaku. “Gimana sama kamu? Siapa cewek yang sangat kamu sayangi?”

“Lihat, sinetron kesayanganmu sudah mulai.”

Terulang lagi. Lagi-lagi Arya mengalihkan topik pembicaraan. Lagi-lagi Arya tidak mau membahasnya. Aku mau tahu, Arya. Siapa cewek beruntung yang telah mendapatkan hatimu itu? Pantaskah aku menjadi gadis itu?

Ketika jam makan malam hampir tiba, aku memasak emlet mie untuk menunya. Meski hanya dinner biasa, aku tetap senang bisa berduaan dengan Arya. So, omlet mie buatanku harus enak.

“Aku sudah nelpon mama, bilang kamu nginep di sini.” . arya muncul di sampingku sambil nyobain omlet mie yang sudah masak.

Ya, Arya memanggil mamaku dengan sebutan mama juga. Begitu juga sebaliknya. Aku jadi semakin tidak mau kehilangan Arya.

“Enak!” Kata Arya sambil menganggukkan kepalanya. Dan dia tampak sangat menikmatinya.

Aku tersenyum bahagia. Jadi merasa seperti istri Arya, memasak makanan untuknya dan selalu berada di sisinya, mendukungnya dan menyandarkan kepalaku di bahunya, dan bahuku selalu siap untuk disandari oleh Arya.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar.

Arya segera melangkah menuju pintu depan.

Setelah itu….

Aku tidak tahu siapa tamu itu dan memangnya aku mau tau. Lebih baik meneruskan kerjaanku memasak omlet untuk Aryaku.

Kemudian aku membereskan meja makan, menata peralatan makan yang akan kami gunakan. Dan tak lupa menata omlet yang sudah selesai kumasak dengan penuh rasa aksih sayang.

Tapi, setelah selesai....

Suara dari luar, koq jadi agak ribut, ya. Aku jadi penasaran juga nich. Siapa tamu itu dan apa yang sedang terjadi di luar sana.

Aku berjalan dengan perlahan. Mencoba mengintip dan mencuri dengar.
Arya sedang duduk berhadapan dengan seorang gais berjilbab. Gadis yang cantik, anggun, dan tampak dewasa.

Aku bisa mndengar perbincangan mereka, meskipun tidak mengerti apa yang sedang jadi bahan pembahasannya.

“Kamu tidak bisa seperti itu!” Ucap gadis itu dengan lembut, meskipun ia tampak tidak setuju dengan apa yang telah didengarnya.

“Bukannya kamu sudah mengetahui dan memahami hal ini!? Balas Arya dengan dingin.

“Tapi ini tidak seperti yang aku bayangkan."

Arya diam. Matanya menatap lurus ke depan. Arya bersikap lebih dingin daripada saat bersamaku.

Gadis itu mengerutkan keningnya dengan keheranannya.

“Terserah kamu!”

Sejenak gadis itu terhenyak. Kemudian dia mengucapkan salam untuk berpamitan dan berlalu.

Sepeninggal gadis itu, Arya langsung menatap penuh arti ke arahku. Itu bukan sebuah tatapan marah karena aku ketahuan mengintip. Seolah itu sebuah tatapan sebagai harapan untuk bersandar di bahuku. Arya, jika itu bisa membuatmu lebih tenang.

Sedangkan aku hanya bisa tersenyum malu. Kemudian Arya berjalan melewatiku, menuju meja makan. Dan aku mengekor di belaknagnya.

Kami pun menikmati makan malam ini tanpa perbincangan sedikitpun.

Arya, kamu sudah meluluhkan hatiku.

Tidak lama kemudian, ada sms masuk di ponselku.

Sayang, ma’afin aku….

Jangan lupa makan malamnya, ya.

Diandra, kamu baik banget sama aku. Tapi....

“Diandra?’ Tanya Arya.

“Iya, Diandra minta ma’af,” jawabku sambil mencet keyboard ponsel untuk membalas sms Diandra.

Aku lagi makan nich.

Kamu jangan lupa makan juga, ya.

Mana bisa aku marah lama-lama sama kamu.

"Diandra perhatian banget sama kamu. Kalian cocok sekali.”

Ada getar yang berbeda dari suara Arya.

“Menurutmu begitu?”

“Kalian saling mencintai, bukan?”

Getar itu lagi. Ada apa? Aku menatap matanya.

"Henny?’

"Iya?!”
"Sudah kuduga.” Nanar matanya menerawang.

Oops, apa barusan aku menjawab iya? Aku kan sayangnya sama Arya.

Aku harus bagaimana?

Kenapa aku bisa merasa sangat nyaman terlindungi saat bersama dengan Arya bahkan di saat aku sudah resmi menjadi pacar Diandra? Kenapa aku merasa sakit hati dan sangat takut kehilangan Arya sat kulihat dia dengan gadis itu? Kenapa Diandra sangat mencintaiku, sementara itu hatiku selalu tertuju pada Arya?

Suasana kembali senyap.

“Arya…” aku memecah kesunyian. Rasanya ingin kuutarakan perasaanku ini.

Arya mengagkat kepalanya, menatapku. Sorot mata itu.... Aku ingin menangis melihatnya. Sorot mata itu begitu tulus dan tajam, seolah pesan tersembunyi dari si pemiliknya, tapi aku tak bisa mengartikannya.

“Siapa gadis itu?

“Zuraida.”

Arya tidak melanjutkan ucapannya.

Hanya itu? Arya, aku ingin tau, apa artinya dia bagimu.

“Apa dia…?”

“Aku sudah selesai. Aku tidur duluan, ya!” Arya memotong kalimatku dan segera beranjak dari tempat duduknya.

Arya selalu menghindar jika aku sudah bertanya berkaitan dengan kisah kasihnya.

“Arya....”

Arya menghentikan langkahnya. Dia menatapku.

“Have a nice dream, Henny. I’m yours,” Arya melanjutkan langkahnya.

I’m yours? Arya mengucapkan itu padaku? Apa itu berarti…?

*****

Aku berlari memasuki ruangan pernikahan itu. Aku terus berlari disertai rasa ketakutan. Dan seolah jalan yang akan kulalui itu tak berujung. Dan air mata tak dapat kubendung lagi.

Di sekelilingku orang-orang bersuka, mereka tertawa dan berbincang-bincang bahagia. Harum bunga yang tertempel di dinding, memenuhi ruangan itu. Ruanagn yang ditata dengan kombinasi warna putih dan hijau. Tapi, aku tak bisa menikmatinya. Semua itu semakin membuat hatiku perih.

Dan aku terus berlari dan menangis.

Langkahku terhenti. Hatiku semakin perih bagai teriris sembilu. Lewat genangan air mataku, aku masih bisa melihatnya. Dia yang sedang bersanding di pelaminan itu. Arya dan Zuraida. Mereka telah menjadi suami istri.

Hiks... Hiks... Hiks... Arya .

Lalu ada sentuhan lemut yang mampir di pundakku. Kutengok. Diandra. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya sambil terus menatap Arya dengan genangan air mataku.

Arya, aku sayang sama kamu.

Diandra menggenggam lembut tanganku.

Diandra, ma’afkan aku.

Kupejamkan mataku.

Kemudian aku tersentak dan kubuka mataku.

Aku terperanjat. Kuedarkan pandangnkuu ke sekelilingku.


Kamarku?

Aku memejamkan mataku lagi. Dan mencoba mengingat semuanya.


Mimpi.

Ya, yang kusaksikan tadi hanyalah mimpi. Syukurlah.

*****

Jam sarapan tiba.

Aku dan kedua orang tuaku menyantap sarapan dengan nasi goreng sebagai menunya.

“Bagaimana? Henny, mau pergi sama mama-paa atau sama Diandra?” Tanya mama.

“Hmm? Pergi ke mana, ma?”

“Lho?” Mama menatap keheranan pada papa.

“Oh iya, ma. Undangannya kan baru datang kemaren. Jadi Henny sempat lihat lihat.”

“Benar juga. Tapi tentunya Henny sudah tau bahkan sebelu kita mngetahuinya, karena Henny dan Arya kan sangat akrab, tak mungkin Arya tidak menceritakannya pada Heny. Meskipun bagi kita, ini sangat mendadak dan seolah tanpa rencana. Lagi pula Arya baru lulus beberapa mingu yang lalu.”

Mama bicara apa sich? gumamku

“Ini!” Mama menyodorkan sebuah undangan kepadaku.

Aku menerima undangan itu dan segera membacanya.

Apa? Mataku memanas. Dan nafasku tidak beraturan.

Nama Arya dan Zuraida terukir dengan indah di dalam undangan itu. Mereka akan menikah.

“Ma, pa, Henny udah selesai.” Aku segera berlari ke kamarku.

Aku langsung merebahkan diri di tempat tidurku. Kutumpahkan segala kesedihanku dengan menangis.

Arya akan benar-benar menjadi suami Zuraida. Dan mimpi itu sebagai pertandanya, seolah ia mau menceritakannya terlebih dulu agar aku tak bgitu terkejut seperti sekarang ini.

Hatiku sakit. Sakit banget. Bagaimana aku bisa menghadapi ini semua. Membayangkan Arya jauh dariku saja aku tidak sanggup apalagi melihanya bersanding di pelaminan.dengan gadis lain.

Arya, jadi selama ini aku tak berarti lebih dari saudara, bagimu?

Arya, aku telah kehilanganmu. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku sedangkan kau sudah menjadi milik orang lain?

Tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan masuk rupanya.

“Arya.” Kubaca nama di layar ponselku itu.

Aku ingin menerimanya, aku ingin mendengar suara Arya, itu yang selalu membuatku tenang dan nyaman. Dan aku merasa tak bisa berkata apapun pada Arya.


Lama tak ku terima panggilan itu. Dan ponsel itu tetap berdering.

Dengan menguatkan diri, akhirnya kuterima juga panggilan itu.

Sunyi.

Sunyi.

Tetap tak ada yang mulai bicara.

“Henny?” Arya memulai.

Aku hanya menahan tangisku.

‘Henny?”

“Ya, kak Arya?” Tangisku masih bisa kutahan.

“Kamu memanggilku ‘kak Arya’?

Tangisku sudah hampir pecah lagi. Aku ingat, dia akan menjadi suami gadis lain. Zuraida, siapa gaidis itu? Aku ingin berteriak padanya.

“Tidak apa. Henny, aku mau bilang....”

“Bilang apa?” Sahutku pelan yang akhirnya dengan tangis juga.

“Henny, kamu menangis?”

Tak mungkin bisa kujelaskan bagaimana perasaan ku sekarang.


“Henny, Zuraida adalah anak atasankuku sewaktu aku masih kuliah kemaren.....”

“Dan kamu tidak bisa memungkiri kalo kamu telah jatuh cinta padanya?” Desakku dengan sesenggukan.

“Tidak, bukan begitu?”

“Arya, aku selalu menceritakan apapun padamu, sebaliknya kamu, bahkan hal sebesar ini tak kau ceritakan padaku.”

“Henny....”

“Aku sudah menerima undangan pernikahan kalian. Selamat, ya.’
“Henny, malam itu… aku telah mengatakannya pada Zuraida untuk yang kesekian kalinya, ‘aku mencintai Henny’.”

“Apa?” Aku gemetar mendengarnya.

“Dan saat di meja makan, kau mengiyakan bahwa kalian saling mencintai. Lalu apa lagi yang bisa kulakukan? Tadinya kupikir, Diandra bukan orang yang kau cintai, karena itu aku tetap menunjukkan rasa sayangku padamu lewat hari-hari yang kita habiskan bersama. Tapi, ternyata pikiranku salah. Dan Zuraida mengikhlaskan dirinya untuk mendampingiku meskipun hatiku akan selalu tertuju padamu, entah sampai kapan ataukah tak akan pernah berakhir.”

“Arya...?” aku kembali menangis. Tapi kali ini tangisku adalah sebuah tangisan bahagia karena telah kuketahui bahwa cintaku tidan bertepuk sebelah tangan. Arya juga mencintaiku.

Tunggu dulu! Arya bilang aku mencintai Diandra. Jadi ini yang menyebabkan dia mengambil keputusan ini?

“Henny?”

“Ya, Arya?”

Haruskah aku katakan bahwa pria yang aku cintai adalah dirinya? Lalu apakah keadaan akan berubah? Arya tidak akan menikah dengan Zuraida? Jika pernikahan itu dibatalkan, mungkin Zuraida akan sangat sakit hati, karena sepertinya gadis itu juga sangat mencintai Arya? Meskipun kuyakin, cintanya tidak sebesar cintaku pada Arya.

“Henny, do’aku untuk kebahagiaan kalian akan selalu menyertaimu.”

Tanpa kusadari, tak ada lagi air mataku yang mengalir lewat sudut mataku.

“Arya, beruntung sekali kamu karena telah mendapatkan gadis setulus Zuraida. Dan aku yakin dia sangat mencintaimu dan akan bersedia selalu berada di sampingmu.”

“Henny, boleh kutanyakan satu hal lagi?’

Aku tak menjawab.

“Kamu bahagia dengan Diandra? “Tanyanya terbata-bata

“Jika hal itu bisa membahagiakan Diandra dan Zuraida, maka jawabannya adalah ‘ya’.”

Dapat kurasakan keterkejutan Arya di ujung telepon sana.

“Maksud kamu, aku telah salah paham? Kau juga mencintaiku kan? Iya kan, Henny?” Arya terdengar sangat senang diketerkejutannya ini.

Aku tak menjawab, karena itu memang benar.

“Henny, aku akan bilang pada Zuraida bahwa kita saling menyayangi dan aku akan….”

“Tidak, Arya. Itu tidak mungkin.”

“Tak ada yang tak mungkin, Henny.”

“Zuraida dan Diandra, rasanya aku tidak bisa membayangkan , bagaimana jika mereka mngetahui ini.”

“Tapi kita berhak bahagia, Henny.”

“Dan mereka juga berhak bahagia.”

“Dengan mengorbankan perasaan kita?”

“Pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan, Arya. Undangan kalian sudah tersebar. Apa kata mereka jika tiba-tiba dibatalkan? Belum lagi dengan keluarga kita dan keluarga Zuraida. Dan Zuraida….”

"Tapi, aku ingin bersamamu.”

Kenapa sekarang keadaannya terbalik? Biasanya Arya yang selalu bersikap lebih dewasa dan aku hanya bisa merengek.
“Aku juga ingin bersamamu. Tapi aku tidak tau bagaimana harus menjalani ini semua.’
Tak kudengar suara dari ujung sana. Kurasa dia sedang memikirkan perkataanku tadi.
Setelah beberapa menit yang disertai sebuah kesenyapan.
“Henny, aku akan selalu menyimpan dan memupuk rasa sayangku padamu ini. Dan benar perkataanmu tadi.”

Syukurlah Arya sudah memahami keadaan kami sekarang.

“Boleh kuminta satu hal padamu?”

“Apa?”

“Kuminta kau juga melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan___ menikah dengan Diandra dan kau berjanji untuk selalu menyimpan dan memupuk rasa sayangmua padaku.”

Arya, tanpa kau pinta pun, aku tidak akan pernah bisa bepindah hati pada orang lain, meskipun orang itu Arya.

Aku tersenyum hambar.

“Kau tersenyum, Henny? kita sepakat!”